Sabtu, 19 Juli 2014

Kisah BISNIS KUE ‘Merubah’ 2 juta menjadi 10 Milliar – VILLA KEK PISANG

selvy
Peluang Wirausaha bisnis modal kecil bisa dirintis dari bermacam bidang, diantaranya kue oleh oleh. Berdiri pada 2007, Selvi Nurlia berhasil mengembangkan oleh-oleh khas Batam dengan merek ‘Villa Kek Pisang’. Sempat merintis penjualan kerupuk udang, klepon ataupun rumah makan padang, ‘jodoh’ Selvi tampaknya berlabuh ke bolu pisang tersebut.
.
Usaha bolu dari perempuan berusia 30 tahun lulusan Teknik Elektro, Universitas Andalas, Sumatera Barat dan suaminya itu, diawali dengan membuat kue bolu pisang yang dibungkus plastik dan diedarkan ke berbagai warung dengan harga Rp 1.000.
.
Suaminya berujar bahwa kue pisang istrinya bisa dijadikan bisnis. “Kek pisang kayaknya bagus kalau tidak dibuat kecil-kecil. Apalagi, kue dalam ukuran kecil cenderung sia-sia jika tidak berhasil dijual.” Akhirnya, mereka memutuskan menjual kue pisang dalam ukuran besar, seperti brownies.
.
Dengan modal Rp 2 juta yang kebanyakan dibelikan bahan baku seperti gula dan tepung terigu per sak, pasangan suami istri ini ini serius menggarap bisnis barunya. Nama Villa dipakai sebagai merek dagang oleh Selvi karena dia dan suami tinggal di perumahan Villa Muka Kuning.”Nama ini cepat dihapal dan tidak susah diucapkan oleh masyarkat. Jadi orang nyebutnya plong.”katanya.
.
Selvi juga membuat perubahan bentuk produk, dari bulat menjadi kotak dengan alasan menambah nilai jual. Selvi berkiblat kepada Brownies Amanda. Sebelum diedarkan ke pasaran, Selvi juga memutuskan untuk menjual produk dengan rasa lebih dari satu
“Kami saat itu berpikir enaknya diberikan rasa apa ya? Karena di rumah saat itu ada selai strawberry kami coba dan ternyata rasanya lucu. Salah satu keuntungan pisang adalah cocok dengan selai apa saja,”katanya. Setelah mulai percaya diri dengan produk dan variannya, Selvi membuat logo dan kemasan agar menarik untuk dijual.
.
Akhirnya, Villa Kek pisang ini resmi berdiri 20 Februari 2007 di sebuah rumah tipe 36. Awalnya mereka mengajak tetangga untuk membantu menjualkan produknya di kantor dengan bonus imbalan sebesar Rp 3000 per kue. Selvi menjual kue tersebut dengan harga Rp 12 ribu untuk original dan Rp 15 ribu untuk variannya. Produksi ini dibantu dengan satu orang ibu tetangga dan 2 pasutri saudara mereka.
 Momentum kebangkitan kue tersebut terjadi saat Selvi kedatangan pembeli yang memesan sebanyak 8 kotak untuk dibawa ke Medan sebagai oleh-oleh pada November 2007. Dari situ, Selvi berpikir untuk memposisikan kue buatannya sebagai ‘bolu khas Batam’. Selvi segera mengubah positioning produk dengan mengubah harganya menjadi Rp 35ribu dan mengganti taglinenya dari So Cozy So Delicous menjadi “Batam, Ya Kek Pisang Villa”. “Kami mengubah harga dan pembeli malah tidak lari karena ada kebutuhan di sini yaitu oleh-oleh. Jadi pasar kita berubah tapi malah makin banyak,”katanya.
.
Usahanya kian berkembang. Namun, positioning itu ternyata juga mendapatkan banyak tentangan dari orang asli Batam. “Saya sudah tinggal sampai 20 tahun ini di sini, tetapi kamu seenaknya saja menyebut sebagai oleh-oleh. Siapa kamu yang baru tinggal di sini,”katanya menirukan orang-orang sekitar. Namun, Selvi menambahkan, “Kami cuma menghadapi itu semua dengan senyuman.”
.
Rumah produksi dipusatkan di Batam Center, yang kini sudah mempunyai 2 outlet yang berdampingan dan Nagoya yang tempatnya yang lebih luas dan dijadikan tempat produksi. Di Kini sebagai sarana delivery Selvi sudah mempunyai 3 unit mobil dan 4 armada motor.Seiring berkembangnya bisnis kue tersebut, kualitas tetap harus dijaga. Untuk itu, Selvi menerapkan pemisahan manajemen pemegang bahan, pemegang oven, pemegang pengadukan, pemegang timbangan dan lainnya. Sedangkan pemegang resep diberikan kepada orang yang dipercaya. “Hal ini dilakukan agar kualitas kue terus sama.”
.
saat ini Dengan omzet Rp10 miliar per tahun, impian membuka cabang di 40 kota pada 2015 pun rasanya tidak terlalu muluk.

Kisah Pengusaha Sukses Wanita, BISNIS USAHA Makanan MODAL KECIL 100 ribu -DONAT DKU –


 
1450844907p
kisah pengusaha sukses wanita kali ini menampilkan kisah sukses bisnis makanan donat bermodal seratus ribu rupiah
.
Berawal dari hobi membuat kue, Rosidah Widya Utami kini sukses mengembangkan bisnis pembuatan donat dengan brand Donat Kampung Utami (DKU). Omzetnya dalam sebulan mencapai ratusan juta.
.
Usaha ini, ia awali dari bisnis skala kecil-kecilan di Jombang, Jawa Timur. Utami pertama kali merintis bisnis tahun 2001. Sebagai jajanan kampung, saat itu donatnya dijual dengan harga Rp 500 per biji.
.
sebenarnya Selepas lulus kuliah Fakultas Administrasi Negara Universitas Brawijaya, Malang, Utami sempat bekerja sebagai tenaga administrasi. Namun, kecintaannya pada dunia masak-memasak mendorong Rosidah untuk membuka usaha sendiri.
.
Di tahun 2001 itu, Rosidah Widya Utami mulai membuka bisnis aneka masakan, termasuk kue. Modal awalnya hanya Rp 100.000. Setelah beberapa bulan berjalan, Rosidah terpikir untuk memfokuskan usahanya pada satu jenis makanan. Ia pun memilih donat dengan pertimbangan kue ini termasuk jajanan yang disukai semua kalangan.
.
Ia merintis usaha pembuatan donat dengan modal dan peralatan seadanya. Untuk mengaduk adonan donat, semisal, seharusnya memakai mixer ukuran besar. Namun, Rosidah memakai mixer biasa. “Peralatan saya sangat minim. Di bawah standar pabrik kue. Tapi itu tidak menyurutkan semangat saya,” ujar Utami.
.
Dibantu seorang pembantu, ia membuat ratusan donat saban hari dan menjajakan ke sekolah-sekolah. Agar produknya makin dikenal, Rosidah juga rajin mengikuti berbagai pameran wirausaha makanan. Setiap ada pameran di sekitar Jawa Timur, ia pasti ikut serta.
.
Bukan cuma itu saja, Utami juga memasarkan donat buatannya yang diberi merek Donat Kampung Utami (DKU) lewat blog pribadi.
.
Sehari-hari, Rosidah tak pernah lupa menuliskan setiap aktivitas seputar usaha donat yang ia geluti, di blog. Bahkan, rezeki mengalir deras berkat blog pribadi tersebut.
.
“Saya pilih donat karena banyak yang suka,” katanya. Ia memulai dengan peralatan rumah tangga seadanya dan menitipkan donatnya ke sekolah-sekolah.
.
Berkat kegigihannya membesarkan usaha, kini donat Utami sudah dikenal di berbagai wilayah Indonesia. Bahkan, donatnya sudah kesohor hingga ke luar negeri.
.
Tentu bukan lagi jajanan kampung, donat buatan Utami kini masuk kategori premium. Rasanya tak kalah dengan donat kelas mal dengan harga lebih terjangkau. “Saya jual Rp 4.000 per buah,” katanya.
.
Pelanggan donatnya terbesar di berbagai daerah di Pulau Jawa, Sumatra, hingga Kalimantan. “Selama ini, saya banyak kirim ke pelanggan di daerah-daerah,” ujarnya.
.
Sejak tahun 2008, beberapa negara, seperti Hong Kong, Malaysia, dan Singapura juga telah menjadi langganan tetap donat buatan Utami. Selain itu, ia juga memasarkan produk donat itu ke London dan Belanda.
.
Khusus di Malayasia, ada seorang pengusaha kuliner setempat yang mengembangkan donat dengan resep donat racikan Utami.
.
Kesuksesan Rosidah Widya Utami mengembangkan bisnis donat tidaklah dalam sekejap mata. Ia ulet mengenalkan produknya lewat berbagai cara. Titik baliknya saat ada investor Malaysia membeli resep donat buatannya.
.
Pada tahun 2008, ada investor Malaysia tertarik untuk membeli resep donat milik Utami. Bahkan, ia sampai diundang ke Malaysia.
.
Sang investor Malaysia itu kemudian membuka gerai donat di Penang Malaysia dengan nama Nash Donut. Kini Nash Donut telah memiliki empat gerai yang berasal dari resep dasar Rosidah. Tiap bulan Nash masih membayar royalti pada Rosidah.
.
Hasil dari penjualan resep plus pembayaran royalti itu cukup lumayan. Rosidah memanfaatkannya untuk mengembangkan usaha yang membuka gerai donat di Jombang. Pada 2009, Rosidah mulai membuka gerai donat bernama Roshberry Donuts and Coffee di Jombang.
.
“Sementara di negara-negara lain saya hanya menjual donat lewat orang-orang Indonesia yang tinggal di negara itu, seperti pelajar dan TKI,” jelasnya,
.
Kendati tak mau menyebut angka, Utami mengaku nilai penjualan resep donatnya cukup mahal. Terbukti, dari hasil menjual resep itu, ia mampu membuka gerai khusus donat di Jombang. Gerai donat ini dinamakan Roshberry Donuts and Coffee.”Saya dirikan tahun 2009,” tuturnya.
.
Selain resep, pengusaha asal Negeri Jiran itu juga membeli tepung donat dari Utami. Selama ini, ia memang memasarkan tepung donat ke kalangan umum tidak hanya ke pengusaha Malaysia itu. Harga jual tepung donat mulai Rp 50.000-Rp 200.000 per 1,5 kilogram (kg).
.
Selama 11 tahun mengendalikan usaha, telah banyak kemajuan yang dicapai. Bahkan, DKU telah menjelma sebuah grup usaha yang membidangi beberapa cabang usaha.
.
Selain donat, Utami juga merambah usaha pembuatan aneka kue kering, kue tart, brownies, dan roti manis. Usaha ini dikelolanya di bawah bendera DKU Cookies. Pendapatan dari kue kering ini melonjak tajam saat Lebaran dan akhir tahun. “Lebaran tahun ini, omzet saya dari penjualan kue kering saja mencapai Rp 500 juta,” ujar Utami.
.
Ia juga merambah bisnis restoran dengan mendirikan rumah makan Sari Rasa di Jombang. Tahun ini, Utami juga telah menambah tiga bisnis baru ke dalam grupnya. Di antaranya bisnis toko oleh-oleh khas Jombang. Dua lainnya tidak terkait dengan bisnis makanan, yakni jasa hosting desain web dan marketing, serta bisnis fashion and jewelry.
.
Rosidah sadar akan pentingnya peran marketing agar usahanya makin berkembang. Rosidah pun mulai membenahi sistem pemasaran dan operasional usahanya. “Melihat di Malaysia, donat saya bisa dipasarkan dengan baik, saya mulai fokus membenahi manajemen,” ujar dia.
Dengan membuka gerai donat, Rosidah juga ingin agar donat buatannya itu naik kelas sehingga lebih bergengsi. Kualitas donat produknya dinaikkan ke kelas premium dengan harga Rp 4.000 per buah. Logo dan kemasan donatnya pun ia buat dengan standar yang lebih baik.
.
Utami juga membuat website sendiri, bahkan mengiklankan produknya secara berbayar via sejumlah media internet, seperti Google dan Facebook.
.
Tak percuma, permintaan pun mulai berdatangan. Bahkan juga dari pembeli luar negeri. Toh, sukses mengembangkan bisnis donat belum membuat Rosidah puas.
.
Rosidah Widya Utami kini sukses menjadi produsen donat ternama di Jombang, Jawa Timur. Dipasarkan dengan brand Donat Kampung Utami (DKU), produk donatnya dikenal luas hingga ke luar negeri. Omzetnya ratusan juta dalam sebulan.
.
Bisnis yang digeluti Rosidah Widya Utami kini makin berkembang. Selain makanan, ia juga merambah bisnis lain, seperti perhiasan, fesyen, dan jasa pembuatan desain web. Ia ingin semua lini usahanya tersebut bisa berkembang.
.
Berawal dari donat, bisnis Rosidah Widya Utami terus berkembang. Setelah donat, ia merambah bisnis kue kering dan rumah makan di Jombang, Jawa Timur.
.
Masih di bisnis makanan, tahun ini ia juga mendirikan toko oleh-oleh khas Jawa Timur di Jombang. Selain menyediakan sejumlah suvenir khas Jombang, toko oleh-oleh ini juga menjual aneka kue kering serta Donat Kampung Utami (DKU) buatannya.
.
Ia berharap, toko ini bisa menopang usaha donat dan kue keringnya. Ia juga ingin menjadikan DKU sebagai pusat oleh-oleh khas Jombang. “Saya maunya nanti orang-orang akan bilang belum afdal ke Jombang kalau belum bawa jajanan DKU,” ujar Utami.
.
Selain makanan, tahun ini juga merambah bisnis perhiasan, fesyen, dan jasa pembuatan desain web. Ia tertarik terjun ke bisnis desain web karena selama ini banyak bersentuhan dengan dunia maya. “Saya mengembangkan usaha donat melalui internet,” ujarnya.
.
Kebetulan, suaminya yang berlatar belakang konsultan marketing mendukung rencananya ini. Bisnis perhiasan dan fesyen yang baru digeluti Rosidah juga dilatarbelakangi minatnya yang tinggi di bidang itu.
.
Menurutnya, dalam mengembangkan usaha jangan pernah menutup kemungkinan terhadap bidang apa pun yang diminati. Ia mengaku, seluruh bidang usaha yang digelutinya berasal dari minat dan ketertarikannya di bidang itu. “Semula yang saya pikir tidak bisa, ternyata bisa. Dan, saya memulai semuanya dari skala kecil,” ujar Utami.
.
Di dunia usaha, ia mengaku banyak terinspirasi dari kisah sukses Johnny Andrean, pemilik gerai donat J.Co. Kendati besar di usaha salon, Johnny juga bisa sukses di usaha donat.
.
Rosidah pun yakin ia bisa melakukan hal serupa. Makanya, dari bisnis donat, ia juga merambah dunia fesyen.
.
Lantaran masih baru, tentu masih diperlukan kerja keras untuk membesarkan seluruh usahanya ini. Selain bisnis yang masih baru, Rosidah juga masih terus ingin mengembangkan bisnis donatnya.
.
Masih ada beberapa inovasi lain yang ingin dilakukannya. Dalam waktu dekat, misalnya, ia ingin memasarkan donat dalam bentuk makanan beku (frozen food).
.
Ia terinspirasi membuat donat frozen karena banyak konsumen di luar kota yang berminat mengonsumsi donat DKU, namun terkendala waktu pengiriman yang lama. Padahal, donat DKU hanya mampu bertahan maksimal sehari.
.
Ia berharap, masalah itu bisa diatasi dengan adanya donat frozen. Rosidah mengaku sudah melakukan penelitian untuk donat frozen ini.
.
Nantinya, donat ini bisa bertahan selama satu tahun jika disimpan pada suhu rendah. “Donatnya pun tinggal digoreng lalu bisa langsung disajikan,” ujar Rosidah.
.
Ia berharap, tahun depan rencana ini sudah mampu terealisasi. Masih terkait dengan donat, ia juga akan membuat divisi cooking class. Divisi ini khusus memberikan kegiatan kursus pembuatan donat.
.
Kursus membuat donat ini sebenarnya sudah dirintis sejak tahun lalu. “Tapi belum serius. Karena peminatnya banyak, ingin saya seriusi lagi,” imbuh Utami.

Cerita Sukses Peluang Usaha Rumahan, Bisnis Makanan Modal Kecil Omset Besar – SAMBAL ROA JUDES

images-andes-AKU BISA-300x199
Cerita Sukses Peluang Bisnis Rumahan kali ini menceritakan kisah perjalanan sukses wirausaha sambal bermodal kecil yang akhirnya beromset ratusan juta.
.
Gara-gara diberi oleh temannya yang tinggal di Manado, Rimayanti Wardani Adiwijoyo atau akrab disapa Rima,mengaku kecanduan menyantap sambal yang dibuat dari campuran ikan roa. Pertama kali mengenal sambal ikan roa, Rima masih mengenyam pendidikan di InterStudi, Jakarta, yaitu tahun 1999. Setiap teman satu kosnya datang dari Manado, Rima selalu minta dibawakan oleh-oleh sambal ikan roa.  “Karena suka, saya pun minta diajarkan membuat sambal ikan roa oleh kerabat teman saya yang tinggal di Manado. Melalui arahan di telepon, saya coba-coba belajar membuatnya. Namun, resep sambal saya ubah sedikit agar rasanya sesuai dengan lidah saya,” cerita Rima .
.
Kegemaran Rima menyantap sambal ikan roa membuatnya jadi sering memasak sambal khas asal Sulawesi  ini. Lama-lama ia pun semakin piawai. Namun, kala itu Rima tidak berniat menjual sambal buatannya. Lalu, pertengahan tahun 2012 , wanita kelahiran Jakarta, 9 Maret 1980 ini dibawakan oleh-oleh ikan roa dari temannya yang datang dari Manado. Mengingat kegemaran Rima menyantap sambal ikan roa, sang teman membawakan ikan dalam jumlah banyak. Rima lantas memasak semua ikan roa  pemberian temannya tersebut. “Setelah saya jadikan sambal, hasilnya jadi sangat banyak. Iseng-iseng , sisa sambal roa yang berlebihan tadi saya masukkan ke dalam toples selai. Ternyata, dapat delapan  toples ,” ujar ibu dua anak ini.
.
Rima memotret toples-toples berisi  sambal buatannya, lalu memajang foto itu di profil BlackBerry mliknya. “Tidak lama memasang, teman-teman kantor langsung minta dibawakan. Dalam sekejap, sisa sambal bikinan saya laku terjual di kantor,” ungkap Rima semangat. Bahkan, teman-teman satu kantor yang tidak kebagian sambal roa buatannya pun lantas minta dibuatkan. Melihat banyaknya permintaan teman kantor, wanita yang pernah bekerja sebagai asisten manajer pemasaran di salah satu perusahaan provider telekomunikasi ini terpikir untuk membuka usaha. “Saya langsung hubungi teman yang kenal dengan pemasok ikan roa dari Manado. Syukurlah, ada sebuah koperasi di Manado yang bisa memasok ikan roa asap sebagai bahan utama sambal. Jika beli di Jakarta harganya sangat mahal,” ujar Rima.
.
Naik Turun Angkot
Dengan uang Rp500 ribu, Rima mulai memproduksi bisnis rumahan sambal ikan roa. Sepulang dari kantor, ia langsung masuk dapur untuk mengolah ikan roa asap. Sang suami, Ciptoning Adiwijoyo, juga ikut turun tangan. Jika Rima banyak berkutat di dapur, suami yang seorang analis bisnis berinisiatif membantu Rima berbelanja bahan baku di pasar, seperti cabai dan bawang. “Sepulang dari kantor suami saya mampir ke pasar Pondok Gede. Pulang-pulang ia sudah menenteng bawang dan cabai,” kenang Rima. Biasanya Rima mulai beraksi setelah menyusui anak. Dengan hanya bermodalkan ulekan tangan, ia berkutat di dapur. Kadang Rima baru selesai memproduksi sambal pukul 3 pagi, namun ia tak pernah mengeluh. “Istilahnya, ada cinta di setiap ulekan,” ujarnya sambil tersenyum.
.
Kemudian , Pengusaha wanita ini mulai memikirkan cara mengemas sambal roa buatannya agar lebih menarik. Ia membeli botol-botol plastik di pasar di daerah jalan Pramuka di Jakarta. Desain logo juga dibuat oleh Rima sendiri. Logo bergambar ikan roa yang memiliki sembilan sirip ini melambangkan tanggal kelahirannya. Sementara warna merah pada logo menandakan rasa sambal yang pedas. Kemudian tercetuslah nama Sambal Roa JuDes. JuDes artinya Juara Pedas. Ini untuk menggambarkan cita rasa sambal yang pedas dan gurih.
.
Sebagai langkah awal, Rima menjajakan sambal produksinya di kantor. Ia masih ingat betul betapa banyaknya tantangan yang harus dihadapi saat memulai usaha makanan ini. Setiap pagi, dengan membawa ransel dan tentengan berisi berbotol-botol sambal, ia berangkat menuju kantor. Bukan dengan mobil, tapi naik turun angkot dan busway. “Dalam hati saya berujar. Suatu saat nanti, apa yang saya alami ini bisa menjadi kebahagiaan di masa yang akan datang,” kenangnya. Di hari pertama, delapan botol yang dibawanya habis terjual. Keesokannya ia datang dengan 10 botol. Itu pun langsung ludes. Hari demi hari produksi mulai meningkat.
.
Melesat Lewat Reseller
Ternyata, selain untuk dikonsumsi sendiri, banyak yang berminat untuk ikut menjual Sambal Roa JuDes sebagai peluang usaha yang menjanjikan. Banyaknya peminat untuk menjadi reseller membuat Rima semakin yakin kalau sambal buatannya memiliki prospek bisnis yang bagus. “Niat saya bukan hanya mengincar materi, tapi juga membantu teman-teman, khususnya perempuan, agar bisa memiliki pendapatan tambahan. Saya ingin menanamkan prinsip saling berbagi,” ujar wanita yang juga bekeja sebagai dosen paruh waktu bidang ilmu komunikasi pemasaran di salah satu universitas swasta ini. “Sedari dulu saya sudah hobi berjualan. Waktu SMP saya berjualan wirausaha aksesori, waktu kuliah dan bekerja sempat berjualan parfum. Saya tahu bagaimana senangnya jika kita bisa mempunyai penghasilan tambahan. Apalagi bagi para ibu rumah tangga,” celetuknya,
.
Karena jadi penjual sambal, Rima dipanggil juragan oleh teman-temannya di kantor. Akhirnya nama sebutan juragan ini dipakai Rima untuk menyebut dirinya sebagai produsen. Sementara istilah bandar, digunakan untuk menyebut nama resellernya. Karena permintaan semakin melonjak, ia pun mulai memikirkan sistem yang lebih baik. Juli 2012 Rima mulai menerapkann metode baru. Ia menggaet lima orang distributor yang terdiri dari teman-teman dekatnya. Para rekanan yang disebut Distributor Bintang Lima ini memegang area penjualan tertentu dan bertugas merekrut atau menerima kerjasama dengan para reseller.
.
Menurut Rima, “nyawa” dari Sambal Roa JuDes terletak pada sistem penjualan langsung. Dengan sistem pemasaran melalui reseller, ada silaturahmi yang terjalin antara pembeli dengan sang reseller.  “Dengan sistem reseller, otomatis barang tidak “parkir” di etalase. Sementara itu, kalau saya menitip di toko, tidak ada komunikasi yang terjalin antara penjual dan pembeli. Barang otomatis tidak berpindah tangan,” jelas Rima. Untuk distributor dan reseller, Rima menerapkan jumlah minimum pembelian. Tentu saja reseller dan distributor akan mendapatkan harga di bawah harga eceran. “Keuntungan yang didapat dari para distributor dan reseller ini bisa mencapai 20 – 30 persen,” imbuh Rima.
.
Promosi Lewat Komentar  Selebriti
Penjualan juga melonjak drastis saat Rima gencar melakukan promosi melalui media sosial, seperti Facebook dan Twitter. Apalagi saat ia menerapkan sistem endorse atau memberikan secara cuma-cuma Sambal Roa JuDes pada beberapa selebriti. Saat menerima produk sambal roa buatan Rima, selebriti tersebut lantas memajang foto dan memberi komentar di Twitter. Komentar para selebriti inilah yang dijadikan Rima sebagai bahan promosi. Pasangan Hanung Bramantyo dan Zaskia Mecca, penyanyi Nina Tamam, presenter Andhara Early serta koki dan pengamat kuliner Bara Pattiradjawane merupakan sebagian artis yang sudah memberikan komentar tentang nikmatnya menyantap Sambal Roa JuDes. “Saya cuma minta alamat mereka, lalu kirim sambalnya,” papar Rima berbagi tip.
.
Dalam bulan Februari 2013, penjualan sambal roa ini mencapai 3.000 botol. Sang suami lalu menyuruh Rima untuk fokus pada usahanya ini. “Suami bilang, saya tidak boleh serakah. Rezeki ini titipan Tuhan. Artinya, bisa diambil kapan saja. Saya disarankan untuk memilih satu, antara pekerjaan kantoran atau berjualan sambal,” cerita Rima. Menurut sang suami, dengan melakukan dua pekerjaan sekaligus, ia menjadi orang yang mudah korupsi. Misalnya, korupsi waktu. Memang, karena sibuk mengurusi sambal, kadang Rima terlambat sampai kantor. Selain itu, otomatis ia sering menggunakan fasilitas kantor untuk menunjang usaha, misalnya kertas atau printer. “Karena tidak mau jadi orang yang seperti itu terus, saya pun menuruti nasihat suami,” papar Rima.
.
Di bulan Februari 2013, Rima akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja. Satu hal yang menguatkan keputusannya untuk berhenti menjadi pegawai adalah karena ia sudah bisa membayar perjalanan  ibadah Haji untuk ibundanya yang kini menjadi orang tua tunggal. “Berkat hasil penjualan sambal, saya bisa mewujudkan cita-cita membayar perjalanan Haji untuk Ibu. Niat ini sudah terlintas sejak almarhum Ayah tiada tahun 2011. Saat bekerja kantoran keinginan ini tidak pernah tercapai karena uangnya tidak pernah ter-kumpul,” ujar Rima terharu.
.
Berhasil Wujudkan Resolusi
Sejak Rima berhenti bekerja, omzet sambal roa meningkat drastis. Di Januari omzet sambal baru mencapai Rp30 juta, sedangkan di April Rima sudah mengantongi omzet Rp170 juta. Dalam dua hari ia memproduksi 500 botol sambal. Selain di Indonesia, Sambal Roa JuDes seharga Rp37.500 per botol ini juga sudah memiliki reseller di berbagai negara, seperti Jerman, Kanada, Jepang  dan Jeddah. Salah satu pasar swalalan juga menjual Sambel Roa JuDes di outlet. Namun, menurut Rima, penjualan terbanyak  tetap diraih oleh para distributornya.
.
Salah satu kunci kesuksesan Pengusaha Rima adalah kualitas. Wanita itu mengaku sangat selektif memilih bahan baku sambal. Ikan roa asap yang dididatangkan langsung dari Manado harus benar-benar dalam keadaan kering agar sambal tidak berjamur saat telah dimasak. Sementara cabai harus dalam keadaan segar, serta memiliki batang yang juga masih segar.
.
Berkat kegigihan Rima merintis usaha sambal, satu demi satu resolusi yang dirancangnya di akhir tahun mulai terwujud. Salah satunya adalah ia bisa menabung , berinvestasi tanah, serta  wakaf untuk almarhum ayahnya. “Tidak punya uang bagi saya sudah biasa.     Karena itu, rasanya luar biasa sekali       ketika saya bisa memiliki uang dan membaginya dengan orang lain,” ujar Rima menutup percakapan.

Kisah Sukses Wanita Bisnis Wirausaha Modal Kecil Kain Perca


 
peluangusaha-kain
cerita Kisah orang Sukses Pengusaha Wanita Bisnis WIrausaha Modal Kecil Kain Perca – CAREMOMMIES -
Haneda Ananta (35) dan Endah Sutjihati (34) adalah dua sosok di balik suksesnya wiraUsaha Kain Perca. Di bawah bendera usaha Caremommies, keduanya tak cuma fokus menghitung besar modal dan laba. Tetapi, pengusaha yang menciptakan banyak produk dari limbah tekstil ini juga menularkan keahlian mereka kepada orang lain. Mulai dari ibu-ibu yang tinggal di sekitar tempat tinggal mereka, hingga para napi di Rutan Salemba dan Cipinang. Pantas jika mereka menyandang gelar Social Entrepreneur di ajang Lomba Wanita Wirausaha BNI-Femina 2010.
 .
DARI NIAT MEMBANTU
Keinginan untuk menjadi wirausaha yang peduli pada lingkungan dan sesama berawal sejak mereka berdua membuat bisnis kecil-kecilan tahun 2007. Tujuan awalnya cukup sederhana, yaitu sekadar mencari tambahan uang kas sekolah. Kebetulan, keduanya tergabung dalam komite sekolah sebuah taman kanak-kanak, tempat anak mereka bersekolah.
 .
“Idenya, membuat kaus nama untuk anak-anak dengan memanfaatkan kain perca. Saya punya teman yang bekerja di konfeksi, sehingga saya bisa mendapatkan kain perca itu secara gratis,” kenang Endah, sumringah. Sinergi mereka langsung klop. Sebagai lulusan Desain Grafis Trisakti, Haneda sangat kreatif soal desain, sementara Endah jago soal menjahit dan menyulam.
 .
Kaus nama yang dibuat selusin itu ternyata laris manis. Insting wirausaha mulai menggelitik keduanya untuk menekuni proyek khusus ini sebagai bisnis serius. “Dengan modal awal Rp500.000, kami membeli bahan-bahan dan alat untuk menjahit dengan tangan, dan membayar tenaga lepasan,” jelas Haneda.
 peluangusaha kain
Kids & Cook adalah nama yang mereka pakai untuk bisnis pertama mereka ini. Tantangan awalnya adalah kesulitan mencari orang yang terampil menjahit dan menyulam. Namun, kebuntuan ini justru dijadikan celah untuk melahirkan tenaga-tenaga ahli baru. Sasaran Endah waktu itu adalah rekan sesama ibu yang menunggui anak mereka pulang sekolah. “Daripada bengong, saya tawari saja mereka untuk belajar menyulam dan menjahit.”
 .
Ternyata, peminatnya lumayan banyak. Ruang tunggu sekolah itu pun berubah menjadi studio jahit dadakan,” cerita Endah, geli. Usahanya ini tak cuma berhasil menambah keterampilan, tapi juga memberi penghasilan tambahan kepada ibu-ibu rumah tangga itu. “Setiap kaus dengan sulaman atau jahitan nama karya mereka selanjutnya kami beli dengan harga pantas,” tambahnya.
 .
Beberapa bulan berdiri, mereka mulai berani mengikuti berbagai pameran dan bersaing dengan produk lain. Ajang ini tak hanya membuka jejaring bisnis, tapi juga membanjiri mereka dengan ide dan masukan dari para konsumen. Produksi mereka pun jadi lebih bervariasi. “Kini produk kami mencapai 30 jenis dengan kisaran harga Rp10.000 – Rp2,5 juta. Agar menonjol dari produk kompetitor, kami selalu berusaha menggali ide desain baru yang orisinal,” ungkap Haneda.
 .
Terbukti, produknya banyak diminati konsumen. Kain kanvas berwarna putih disulapnya menjadi cantik dengan berbagai tisikan sulam warna-warni atau tokoh kartun yang sedang digandrungi anak-anak. Untuk menjaring konsumen ibu-ibu, mereka menambah variasi produk baru, seperti jalinan kain perca yang dibentuk menjadi celemek, sarung bantal, bed cover, dan kain cempal (untuk mengangkat barang-barang panas). Dengan begitu, jangkauan konsumen mereka meluas, dari anak-anak hingga ibu-ibu. “Sekarang kami sedang berusaha menjaring konsumen remaja. Salah satunya lewat produk sampul buku dari kain sulaman yang unik dan girlie,” kata Haneda.
 .
Bisnis yang meningkat pesat membuat mereka terpikir untuk mencari nama baru. Tahun 2008, Kids & Cooks resmi berganti nama menjadi Caremommies. “Untuk mengokohkan usaha kami, di tahun yang sama kami langsung mematenkan nama Caremommies,” tambah Haneda. Ide untuk memakai nama Caremommies ini dirasa cukup mewakili passion dan misi bisnis mereka. Kata care atau peduli memang menjadi penekanan dalam usaha. Kecintaan mereka terhadap anak-anak tertuang pada beragam pernak-pernik lucu yang mereka produksi.
 .
Dalam proses usahanya, mereka juga selalu berusaha memperhatikan lingkungan, dengan memakai bahan baku potongan kain limbah pabrik tekstil yang mereka beli dari agen. Tak cuma itu, mereka juga tergerak untuk memberdayakan wanita. “Kami ingin wanita tidak hanya berdiam diri, menunggu dinafkahi oleh suami, melainkan bisa berwirausaha. Melalui kursus gratis menjahit dan menyulam, kami siap mewujudkan impian mereka ini,” ungkap Endah.
 .
Meski belum lama di dunia bisnis ini, Endah dan Haneda tahu benar pentingnya branding. Tahu modalnya terbatas, sejak awal mereka memakai pendekatan online untuk mempromosikan produk, yaitu melalui situs caremommies.com dan akun facebook dengan nama sama. Ternyata, cara ini berhasil menuai sambutan dan feedback positif. Ditambah ulasan berbagai media, Caremommies pun makin berkibar. Berkat ketekunan mengikuti berbagai bazar berkualitas, sejak 2010 Caremommies berhasil menembus Alun-Alun Indonesia dan Galeri Smesco.
 .
Sekarang, memasuki tahun keempat, usaha keduanya telah berhasil meraup omzet Rp20 juta – Rp25 juta per bulan. Dari yang tadinya hanya digarap keroyokan berdua dan membayar pekerja lepas, kini mereka telah memiliki 15 pekerja tetap yang mereka sebut sebagai partner. Saking membeludaknya pesanan, para pemesan harus rela mengantre. “Karena handmade, mereka harus sabar menunggu. Untuk pesanan hari ini, barang baru bisa dikirim dua minggu kemudian. Untungnya mereka bisa mengerti dan mau menunggu,” kata Haneda.
 .
Sebenarnya, untuk mengejar pesanan, mereka bisa saja mengganti jahit tangan dengan jahit mesin. Tetapi, mereka tidak melakukannya. “Selain kehilangan ciri khas produk, visi kami untuk menciptakan lapangan pekerjaan juga tidak akan tercapai,” tekan Endah.
 .

Kisah Sukses Pengusaha Wanita, Wirausaha Kartun Dunia Anak


 
getImageContent
 Kisah Sukses Pengusaha Wanita, Bisnis Wirausaha Motif Kartun Dunia Anak – SIMPLY IDEA -
.
Peluang Usaha yang melibatkan dunia anak anak makin banyak diminati, misalnya saja banyak anak-anak  senang kalau kamarnya berhiaskan gambar-gambar kartun yang mereka suka. Sama-sama punya balita, tiga ibu muda: Dinar Esfandiari Santoso (38), Ira Karmawan (39), dan Rani Soegeng (38), berkolaborasi membentuk Simply Idea, yang menyediakan perlengkapan kamar tidur anak. Ide mereka sederhana, tapi bisnis ini tidak sesederhana itu. Halangan demi halangan singgah, tapi mereka tak menyerah. Malah, untuk memajukan usaha, mereka tak ragu berinvestasi lebih dengan menyewa tenaga konsultan ahli.
.
Mencari Celah Pasar
Tiga bersahabat ini melihat, pemain di bisnis bedding kebanyakan dari luar negeri dan sudah memiliki nama besar. Karena itulah, mereka tak ragu terjun untuk menjadi pemain lokal yang unggul di bisnis ini. Namun, keberanian saja tidak cukup. Belum juga dimulai, rintangan sudah menghadang. Mencari pegawai yang berkualitas ternyata tidak mudah. “Kami harus berburu SDM yang memiliki keterampilan menjahit dan mengaplikasikan bordir sesuai standar kualitas yang telah kami tetapkan,” ungkap Dinar, yang menggunakan bahan polos dan memberi aplikasi lucu kesukaan anak-anak. Aplikasi inilah yang kemudian menjadi ciri khas Simply Idea.
.
Masalah berikutnya hadir: kehabisan modal. Mereka memang belum mau meminjam dari bank, karena merasa belum sanggup berekspansi lebih luas. “Selain ada bunganya, kalau ada uang, kami takut jadi terlalu gampang mengeluarkan uang, sementara kemampuan mengembalikan belum sampai di situ. Akhirnya, karena kebaikan hati seorang anggota keluarga dari partner, kami dipinjami suntikan dana, boleh nyicil tanpa bunga,” cerita Dinar.
.
Tak punya background ilmu bisnis, mereka mencari-cari sendiri celah untuk memasarkan produk. Beberapa kali mereka ikut bazar yang diadakan asosiasi asing di Jakarta. Tak hanya mendapatkan konsumen, mereka berkenalan dengan peserta bazar lain dan mendapat info tentang bazar mingguan yang diadakan sebuah mal. Di sanalah nama Simply Idea mulai dikenal. “Kami lalu memikirkan cara memperluas pasar. Coba-coba, kami hubungi sebuah department store. Kebetulan, produk bedding seperti yang kami buat, belum ada di sana. Mereka tertarik, namun syaratnya, dalam waktu satu bulan kami harus melakukan beberapa revisi, sebelum produk kami bisa dipasarkan di situ, misalnya soal packaging dan cara mencuci,” tutur Dinar, yang waktu itu tak mengerti persyaratan masuk ke department store.
.
Dalam berbisnis, friksi-friksi kecil di antara partner, sih, dianggap biasa. Menyatukan gagasan dari tiga kepala sudah pasti tidak mudah. Justru, mereka tak bisa membayangkan harus mengarungi perjalanan bisnis tersebut tanpa didampingi partner. Dan, mereka memang saling mengisi. Sejak awal, masing-masing sudah memilih divisi yang sesuai dengan bidang yang disenangi. “Saya menangani marketing, Rani bertanggung jawab untuk produksi, sedangkan Ira mengurus keuangan dan kepegawaian,” tutur Dinar, yang bercerita bahwa mereka bekerja secara profesional.
.
Ingin Manjakan Konsumen
Menjaga hubungan baik dengan pelanggan, sangat penting artinya bagi tiga sekawan ini. Karena itu, mereka menyediakan layanan purnajual sebagai bagian dari komitmen untuk memuaskan konsumen. Bentuk layanan itu misalnya membetulkan renda bedcover yang terlepas. Tampaknya sepele, namun layanan ini membuat pelanggan Simply Idea merasa diperhatikan dan dimudahkan. “Bagusnya, hingga kini, tak banyak yang menggunakan layanan ini. Karena, produk kami berkualitas tinggi, baik dari jenis kainnya maupun kerapian jahitan di setiap bentuk aplikasinya,” kata Dinar, yang menetapkan syarat dan ketentuan untuk layanan purnajual tersebut.
.
Setiap 3 bulan, mereka meluncurkan produk baru. Kalaupun mereka merilis produk dengan tema yang sama, motif yang ditampilkan pasti berbeda. Misalnya, tema mobil balap. Jika sebelumnya menampilkan motif mobil A, kini pakai motif mobil B. Bisa juga mereka merilis tema baru, contohnya princess. Semua aplikasi serba princess, dari seprai sampai kelambu, lengkap dengan aplikasi bergambar tongkat peri. Sehingga, saat akan tidur, anak itu seolah sedang berada di kastil, merasa jadi princess betulan.
.
Lalu, bagaimana dengan produk di department store yang belum terjual? “Ditarik, lalu kami gelar big sale selama 4 hari. Wah… yang datang banyak banget,” tutur Dinar, senang.
Dari keinginan memanjakan konsumen, mereka juga bisa membuat produk custom made. Biasanya, konsumennya adalah ibu-ibu yang ingin mengisi kamar anaknya. “Jatuhnya memang jadi lebih mahal, karena harus membuat pola baru. Desainnya bisa mereka gambar sendiri atau kami yang membuatkan,” kata Dinar, yang membolehkan orang memesan via website tanpa minimum order.
.
Karena banyak permintaan, sejak tahun 2006 Simply Idea membuat mukena untuk anak, tetap dengan aplikasinya yang khas. Reaksi pasar luar biasa baik. Setiap awal tahun mereka menyiapkan produk mukena baru. “Dua tahun lalu, buyer menantang kami untuk membuat baju muslim anak. Kami segera mencari konfeksi yang berbeda dari konfeksi untuk pembuatan mukena. Sayangnya, karena tak mau kehilangan order, konfeksi itu melemparkan ke konfeksi lain. Hasilnya benar-benar tidak sesuai. Saat itu kami mengalami kerugian besar,” kisah Dinar, yang ketika itu gagal menyerahkan produk kepada buyer   tepat waktu
Tak Main-Main
Meski produk Simply Idea lucu-lucu, bukan berarti mereka main-main dalam berbisnis. Tak tanggung-tanggung, mereka menyewa konsultan bisnis dan keuangan, yang membantu meraih sederet target yang telah dirancang. “Konsultan itu juga mengarahkan kami dalam berstrategi, menerapkan sistem marketing paling efektif, membenahi keuangan, bahkan memotivasi kami untuk terus maju,” kata Dinar, yang baru menyadari, mereka bisa menerapkan profit sharing, setelah keuangan usaha benar-benar sehat.
.
Salah satu hasil dari konsultasi tersebut, sejak beberapa bulan lalu Simply Idea menambah kekuatan lewat sistem marketing online dan offline. Divisi online lebih banyak bersentuhan dengan konsumen, misalnya memberi info tentang produk terbaru, mencari tahu animo pasar terhadap produk mereka, dan mengumpulkan konsumen ketika ada event besar semacam Inacraft atau big sale. “Sedangkan marketing offline bertugas menjual produk kepada konsumen yang tidak dapat dijangkau oleh sistem online, yang biasanya membeli dalam jumlah besar.” ungkap Dinar.
.
Mereka bertiga Juga berencana memperluas peluang usaha mereka dengan memiliki butik sendiri. Masalahnya hanya satu, yaitu mendapatkan lokasi yang sesuai target pasar. Mereka ingin, lokasinya dilewati banyak calon konsumen berdaya beli tinggi, yang tergolong impulsive shopper. Mengapa ingin punya butik? Toh, karya mereka  sudah masuk di department store ternama dan dipajang di beberapa retail store. “Di butik itu, kami bisa lebih mengembangkan desain dan produk yang lebih variatif lagi. Konsep butik yang kami inginkan adalah toko yang cozy, simpel, clean, dan didesain dalam bentuk kamar tidur anak yang cantik,” cerita Dinar.
.
Sudah selama 5 tahun Simply Idea bekerja sama dengan Mothercare Indonesia, yang seluruh produknya didatangkan dari Inggris. “Mereka membuka kerja sama dengan perusahaan lokal, untuk menjual produk yang tidak didatangkan dari Inggris. “Misalnya, kelambu. Orang Inggris kan nggak kenal kelambu atau bedong. Hanya, kelambu itu harus disesuaikan warnanya dengan boks bayi yang diterbangkan dari Inggris. Ditambah lagi, produk yang kami desain khusus untuk Mothercare Indonesia, tidak boleh ada di tempat lain,” kata Dinar, yang juga menjalankan sistem kerja sama konsinyasi dengan beberapa retail.
.
Tawaran kerja sama dari luar negeri, seperti dari Australia dan Selandia Baru, terus mengalir. Jumlahnya selalu bertambah. Tentunya, menjaring buyer dari luar negeri akan memperkuat arus keuntungan. Sayangnya, sampai saat ini kerja sama itu belum bisa terwujud. “Ada beberapa kesepakatan yang sudah tercapai, misalnya tentang desain produk. Hanya, soal harga, masih juga belum ada kata sepakat. Inilah yang menjadi satu-satunya kendala. Untuk mengantisipasi masalah ini, kami sedang menyiapkan suatu konsep kerja sama baru, yang nantinya akan kami tawarkan lagi kepada para buyer asing tersebut. Bentuk kerja sama: beli putus, dengan keuntungan berimbang antara buyer dan produsen,” kata Dinar.

Profil Pengusaha Muda Sukses, Saptuari Sugiharto – Juragan Kedai Digital

Saptuari-SugihartaAcara Kick Andy edisi 29 Oktober 2011 menampilkan beberapa sosok pengusaha muda kreatif yang sukses dengan usaha – usahanya. Salah satunya Saptuari Sugiharto, seorang pengusaha muda yang merupakan bos dari Kedai Digital. Apa dan bagaimana Saptuari Sugiharto berhasil dengan usaha Kedai Digital-nya? Simak profil pengusaha muda sukses, Saptuari Sugiharto sang juragan Kedai Digital di bawah ini.
Berbeda dengan generasi akhir 1990-an dan awal 2000-an yang umumnya terjun menjadi wirausahawan karena sulit mencari kerja akibat krisis ekonomi yang tengah melanda, generasi pengusaha muda berumur 20-an tahun saat ini tampak memiliki keyakinan diri yang lebih besar. Mereka sejak semula bersungguh-sungguh ingin menjalani hidup sebagai entrepreneur. Salah satu di antaranya adalah Saptuari Sugiharto.
Lelaki berusia 29 tahun itu telah mulai berbisnis kecil-kecilan sejak kuliah di Jurusan Geografi Universitas Gadjah Mada. Tahun ini, ia terpilih sebagai runner-up Wirausahawan Muda Mandiri 2007. Sejak masuk kampus UGM pada 1998, Saptuari telah mendambakan memiliki usaha sendiri. Sembari kuliah; beberapa usaha dijalaninya; mulai dari menjadi penjaga koperasi mahasiswa, penjual ayam kampung, penjual stiker, hingga sales dari agen kartu Halo Telkomsel.
Saptuari-Sugiharta-Founder-Kedai-DigitalLalu, pada 2004, ketika bekerja sebagai event organizer di sebuah perusahaan di Yogyakarta, mantan staf marketing Radio Swaragama FM ini terperanjat melihat antusiasme penonton berebut merchandise berlogo atau bergambar para selebriti. “Heran. Kenapa orang-orang begitu bersemangat mendapatkan kaus, pin, atau apa saja milik artis,” katanya.
“Padahal, mereka bisa membuat merchandise apa saja sesuai dengan kemauannya.” Bermula dari rasa heran itu, pada 2005 Saptuari mengambil langkah berani mendirikan Kedai Digital. Perusahaan itu bertujuan memproduksi barang-barang cendera mata (seperti mug, t-shirt, pin, gantungan kunci, mouse pad, foto dan poster keramik, serta banner) dengan hiasan hasil print digital.
Waktu itu, ia bermodalkan uang sebanyak Rp28 juta; hasil dari tabungan, menjual motor, dan menggadaikan rumah keluarga. Butuh waktu enam bulan bagi lelaki kelahiran Yogyakarta itu untuk memulai kegiatan Kedai Digital. Terlebih dahulu, ia mesti mencari mesin digital printing. Ia mendapatkannya (buatan China) di Bandung.
Ia juga harus mencari tahu sumber-sumber bahan baku. Kemudian, ia harus mempersiapkan tempat usaha, menyusun konsep produk, dan merekrut para staf. Semuanya dilakukan sendirian. Bisnisnya berjalan pelan tapi pasti. Ketika usahanya mulai stabil, Saptuari memberanikan diri merekrut desainer dari kampus-kampus seni yang memang tersedia cukup banyak di Yogyakarta.
Untuk tenaga marketing, digunakan para mahasiswa dari perguruan tinggi lain yang juga tersebar di kota itu. Target pasar Kedai Digital adalah para mahasiswa. Karenanya, menurut Saptuari, perusahaannya tak boleh main-main soal kualitas. Karena itu, ia mesti menggunakan desainer yang memiliki latar belakang pendidikan formal. Pada tahun pertama, Kedai Digital telah berhasil meraih penjualan sebesar Rp400 juta.
Tahun berikutnya, perolehan bisnis melesat menjadi Rp900 juta. Seiring dengan pertambahan outlet, revenue pada 2007 menembus angka Rp1,5 miliar. Hingga akhir tahun silam, Kedai Digital telah memiliki delapan gerai di Yogyakarta. Salah satunya adalah Kedai Supply yang menyediakan bahan baku untuk kebutuhan produksi di seluruh outlet lainnya.
Sementara itu, gerai Kedai Printing dikhususkan melayani pesanan produk-produk advertising seperti banner. Di luar Yogyakarta, Saptuari telah memiliki lima outlet lain (di Kebumen, Semarang, Tuban, Pekanbaru, dan Solo) melalui sistem waralaba. Menurut Nur Alfa Agustina, Kepala Departemen MikroBisnis Group Bank Mandiri (penyelenggara Wirausahawan Muda Mandiri), di antara 500 peserta yang mengikuti lomba, Kedai Digital dinilai inovatif karena merupakan pelopor industri merchandise dengan metode digital printing di wilayah Yogyakarta.
Untuk penilaian dari sisi bisnis, Saptuari mendapat nilai lebih karena bukan berasal dari keluarga pengusaha. Pendidikannya pun tak terkait dengan ilmu ekonomi. Lalu, karena melibatkan banyak mahasiswa dalam menggerakkan usahanya dan mengajarkan mereka soal entrepreneurship, lelaki bertubuh kekar itu mendapat nilai yang tinggi dalam penilaian aspek sosial. Soal yang terakhir itu, Saptuari memang mengajak para pegawainya yang berperilaku baik untuk ikut memiliki saham di outlet-outlet Kedai Digital.
Kini, telah empat kedai yang sahamnya ikut dimiliki para pekerja. “Saya tak mau mereka terus-terusan hanya menjadi pekerja. Mereka juga harus menjadi owner,” katanya. Semangat wirausaha telah ikut disebarluaskan.

Wirausaha di Rumah, Bisnis Kue Kering – SMILE COOKIES –

Contoh Sukses Wirausaha di Rumah berikut memanfaatkan peluang bisnis usaha makanan ringan kue kering.
Perkembangan industri kuliner yang semakin moncer, mendorong para pelaku bisnis wirausaha untuk terus bergerilya menciptakan produk-produk baru yang inovatif. Salah satunya seperti inovasi bisnis brownies cookies yang diluncurkan Ira Puspita Dewi, seorang wanita warga  Bandung, Jawa Barat yang berhasil menjangkau pasar bisnis wirausaha nasional maupun pasar bisnis wirausaha  internasional.
.
Meskipun aneka macam jenis bisnis makanan kue kering brownies telah menjamur di kalangan masyarakat umum, namun Ira tidak kehabisan akal untuk menciptakan peluang bisnis wirausaha kue kering baru yang belum pernah ada sebelumnya. Melihat selama ini hanya ada kue brownies kukus maupun kue brownies panggang yang banyak beredar di kalangan masyarakat, Ira mencoba membuat terobosan baru bisnis wirausaha kue kering brownies cookies yang memiliki cita rasa unik dan didukung dengan tampilan kemasan yang cukup menarik.
.
Mengawali bisnis wirausaha nya pada tahun 2008 silam, Ira memperkenalkan kue kering Smile Cookies sebagai brand produk bisnis wirausaha nya dan menawarkan dua produk bisnis wirausaha unggulan yang sangat menawan. Yakni brownies cookies kue kering original dengan cita rasa coklat yang cukup pekat, serta kue kering cinnamon cookies yang menawarkan kesegaran kayu manis dengan tambahan manisan kulit jeruk, buah cerry, maupun kismis.
.
Selain menawarkan dua produk bisnis wirausaha makanan kue kering unggulan dengan cita rasa yang cukup unik, istri Iwan Setiawan ini mengemas produk bisnis wirausaha kue kering nya dengan toples atau tabung composite can untuk meningkatkan nilai jual produk bisnis wirausaha makanan kue kering yang ditawarkan. Strategi bisnis wirausaha makanan ini ternyata cukup efektif, bila dulunya makanan Smile Cookies yang dikemas dengan plastik kurang diminati para konsumen, sekarang ini produk bisnis wirausaha Ira terlihat semakin eksklusif dengan kemasan kaleng dan digemari kalangan anak muda, orang tua, hingga para pemilik toko makanan dan  kue kering yang tersebar di seluruh penjuru nusantara.
.
Dengan harga jual Rp 25.000,00/pcs, sekarang ini bisnis wirausaha makanan kue kering Smile Cookies mulai dipasarkan ke sejumlah kota besar di Indonesia dan menjangkau beberapa negara tetangga di Asia. Sebut saja seperti Jakarta, Bekasi, Bogor, Purwakarta, Depok, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Medan, Palembang, Bengkulu, Kalimantan, Sulawesi, Batam, Papua, hingga mulai menjajaki pasar Malaysia dan Singapura. Untuk memenuhi permintaan pasar makanan kue kering yang semakin besar, sedikitnya Ira bisa memproduksi kue kering Smile Cookies sekitar 150-200 tabung composite can per hari atau sekitar 2.500 composite can kue kering brownies cookies dan kue kering cinnamon cookies setiap bulannya.
.
Dari bisnis wirausaha makanan kue kering tersebut, Smile Cookies bisa mendapatkan omset bisnis wirausaha kue kering sekitar Rp 450 juta sampai Rp 500 juta setiap tahunnya, dan menerima laba bersih sekitar 40% dari seluruh omset bisnis wirausaha kue kering yang mereka dapatkan.
.
Semoga informasi berita bisnis wirausaha makanan yang mengangkat tentang kue kering brownies cookies camilan unik yang laris manis ini bisa memberikan tambahan wawasan bagi para pembaca dan menginspirasi seluruh masyarakat Indonesia untuk mulai merintis bisnis wirausaha makanan. Maju terus UKM Indonesia dan salam sukses.