Minggu, 20 Juli 2014

pupuk kompos berlaber POST.


APA yang dilakukan ketiga pemuda ini terbilang kreatif dan inovatif. Di tengah sempitnya peluang kerja di sektor formil, nyatanya mereka mampu menciptakan lapangan kerja di sektor non formil lewat wirausaha. Nyatanya, masa depan yang cerah mulai terpancar di hadapan mereka.
Romi Calmaria D SSos, Arief Irvan ST dan Arliansyah, tiga pemuda asal Kabupaten Labuhan Batu Utara yang mulai go public dengan produk usaha kreatif mereka, pupuk kompos berlaber POST.
Idenya, berdasarkan potensi daerah tempat tinggal mereka di Dusun I Simpang Merbau Desa Pulo Jantan Kecamatan NA IX-X Labuhan Batu Utara, sebagai hamparan kebun kelapa sawit. Tentunya, banyak limbah kelapa sawit utamanya tandan buah kosong yang mereka lihat bisa dimanfaatkan untuk menjadi pupuk organik atau kompos.
Jadilah, mereka memproduksi pupuk kompos POST yang kini mulai dilempar ke pasaran, bukan sekadar di kawasan Labuhan Batu Utara, namun juga mulai dikenalkan di kios-kios pupuk kawasan Tapanuli Utara dan Kota Medan.
“Sasaran kami selain petani tanaman perkebunan dan hortikultura yang banyak terdapat di sekitar tempat tinggal kami, juga hobiis tanaman hias atau bunga yang banyak terdapat di Kota Medan. Tahap awal kami memang baru memperkenalkan, namun di waktu-waktu mendatang kami harap pupuk kompos produksi kami bisa diterima masyarakat,” kata Arief.

Namun, mereka mengakui, ide tidak datang begitu saja. Seperti dikatakan Romi, awalnya dia sendiri belum terpikir untuk membangun industri pupuk organik. “Awalnya sih karena tidak ada pekerjaan. Semula saya bekerja sebagai office manajer di sebuah perusahaan, namun karena terimbas krisis lalu saya di-PHK hingga menganggur,” ungkapnya.
Periode Februari-Maret 2009, dia pun coba-coba searching di internet, apa yang tengah ‘heboh’ terutama di daerahnya. Akhirnya dia mendapati kenyataan masyarakat mengeluhkan harga pupuk yang mahal.
Bersama rekannya Arief dan Arliansyah, Romi pun mulai coba-coba memproduksi pupuk kompos. Semula mereka mengambil bahan baku sampah, tapi akhirnya kesulitan karena sulit mengkoordinir masyarakat untuk tidak buang sampah sembarangan. Terbersitlah di benak mereka, untuk menggunakan bahan baku tandan kosong kelapa sawit yang banyak jadi limbah pabrik-pabrik di sekitar daerah mereka tinggal.
Bulan Mei 2005, mereka mulai membuat demplot. Lalu tiga bulan try and error hingga akhirnya mendapatkan formulasi yang pas untuk menghasilkan kompos yang bagus serta cepat.
Dengan wadah usaha CV Bina Tani Sejahtera, mulailah mereka merintis industri pupuk kompos tersebut. “Kami membangun usaha ini dengan investasi sekitar Rp 50 juta, masing-masing untuk membeli mesin pencacah Rp 15 juta, sewa tanah, membeli peralatan serta membayar tiga pekerja lapangan,” papar Arief.
Mereka sudah mampu memproduksi pupuk kompos sebanyak 15 ton/bulan dengan omset Rp 30 juta hingga Rp 40 juta/bulan. Pupuk kompos POST produksi CV Bina Tani Sejahtera dijual dengan kemasan plastik 5 kg seharga Rp 5.000 serta karung 25 kg seharga Rp 50.000.
Kini, ungkap Romi, mereka berencana mengembangkan pembuatan pupuk kompos tersebut dengan bahan dasar campuran tandan kosong kelapa sawit dan kotoran lembu, serta sampah-sampah organik.
“Sebab bentuk serbuk yang dihasilkan dari bahan baku tandan sawit tersebut, kadang jadi halangan dalam pemasaran. Sebagian masyarakat menganggapnya itu hanya ampas. Dengan campuran tadi, kami kira hasilnya bakal lebih halus,” ujar Romi.
Mereka berbangga, bukan saja karena telah terbayang hasil dari membina ekonomi, namun juga karena apa yang dilakukan ini menjadi sumbangan bagi pelestarian lingkungan. Dengan memanfaatkan sampah-sampah organik, dan memperkenalkan penggunaan pupuk organik, berarti juga mereka ikut mengkampanyekan peduli lingkungan. Save the earth, go organic, begitu slogan mereka.
Satu lagi yang membuat mereka bangga, yakni pengakuan atas prestasi sebagai wirausahawan yang berhasil membina ekonomi, lewat anugerah UMK Award yang diberikan PT Bank Sumut baru-baru ini, untuk kategori usaha mikro.
“Mudah-mudahan ini menjadi pendorong kami untuk terus membangun usaha dan sukses berwirausaha,” kata Romi yang diamini rekan-rekannya. (eko)

Hedi Rusdian Gunawan, Anak Muda Sukses Pengusaha Aksesories, 70% Produknya Ekspor

 Hedi-Rusdian-Gunawan-Anak-Muda-Pengusaha-Sukses
Anak muda berwirausaha? Kenapa tidak, jangan pernah sepelekan tentang wirausaha. Anak muda bernama Hedi Rusdian ini sukses menembus ekspor dengan produk aksesorisnya seperti beckel, cincin, kalung yang sepertinya sepele. Nama workshopnya adalah Fourspeed Metal Werks dan sudah di kenal mendunia berkat keunikan hand made nya oleh band – band kelas dunia seperti Sepultura maupun Napalm Death. Baca kisah Hedi Rusdian, Anak Muda Sukses Pengusaha Aksesories, 70% Produknya Ekspor berikut ini yang saya ambil dari tribunjabar.co.id & http://fokusjabar.com.
Sepultura-Pesan-Aksesoris-Ke-Hedi-Fourspeed
Sepultura Pesan-Aksesoris Ke Hedi Fourspeed
SIAPA bilang hobi tidak dapat menjadi pundi-pundi uang? Buktinya, Hedi Rusdian berhasil meraih kesuksesan karena diawali oleh hobinya mengumpulkan dan mengoleksi pernak-pernik berbahan metal atau logam, seperti beckel, cincin, kalung, dan sebagainya.
Namun, ternyata, untuk meraih sukses, Hedi harus melalui jalan yang berliku. Pemuda berbadan tegap ini pernah mengalami kegagalan berbisnis. “Awalnya, saya mencoba menekuni clothing. Saya membuat dan memasarkannya. Tapi, gagal. Saya sempat bangkrut,” aku Hedi membuka obrolan di tempat usahanya, Fourspeed Metal Werks di Jalan Anggrek 42 Bandung, Selasa (13/11).
Meski dirundung kegagalan dan kebangkrutan, Hedi punya mental baja. Pemuda itu tidak putus asa. Sebaliknya, Hedi makin tertantang. Menurutnya, kegagalan itu menjadi pembelajaran penting sekaligus pelecut untuk terus melangkah.
Pasca kegagalan itu, Hedi kembali menekuni hobinya, mengumpulkan aksesori berbahan logam. Ternyata, Hedi mendapat inspirasi untuk memproduksi aksesori tersebut.
Lalu, dia pun mulai mengumpulkan berbagai informasi, seperti proses pembuatan, bahan baku, hingga pemasaran. “Saya mencari data dan informasi dari mana-mana, termasuk internet,” ucapnya. Bermodalkan uang Rp 40 juta, Hedi mulai merintis usahanya. Pada 2005, Hedi membentuk Fourspeed di Margahayu Raya. Saat itu, Hedi mempekerjakan 5 orang karyawan.
Untuk memasarkan produk-produknya, Hedi menitipkannya pada distro-distro. Setelah sekian tahun berjalan, tentunya Hedi ingin memperlebar pasarnya. Mulailah dia memanfaatkan jaringan internet.
Hasilnya? Luar biasa. Produknya diminati beragam komunitas. Hebatnya, komunitas itu banyak dari mancanegara. Mereka antara lain grup band, skateboard, fotografi, dan lainnya. Bahkan, di antara konsumennya, terdapat nama-nama beken. Antara lain, grup thrash metal ternama, Sepultura. “Saat itu, vokalis Sepultura, Derrick Green, tertarik pada produk kami. Dia bertanya, ini produk siapa,” tutur Hedi.
Tentunya, Hedi kaget bercampur bangga produknya diminati grup cadas tersebut. “Dalam akun twitternya. Derrick Green menilai produk kami merupakan produk hand made berkualitas. Ini jadi kebanggaan kami tentunya,” sambung Hedi.
Berkat twitter itulah, katanya, produk-produknya dilirik beragam komunitas. Sejauh ini, artis-artis dunia menjadi pelanggannya. Di antaranya Rob Blasko (Ozzy Osbourne and Friends), Napalm Death, Estevan Oriol (fotografer), Steve Caballero (skateboarder), dan lainnya. Adanya respon itu, pada 2010, Hedi mulai melakukan kerjasama dengan berbagai grup band. Kerjasama itu termasuk dengan Sepultura. Bentuknya dalam hal pengadaan buckle dan cincin.
Kini, Hedi memiliki pasar ekspor. Hampir 70 persen produknya beredar di berbagai negara. Akan tetapi, pihaknya pun tidak menyepelekan pasar domestik. Buktinya, sejumlah artis papan atas tanah air berkolaborasi dengan industri yang dipimpinnya itu. Yakni, Netral, Kaka Slank, Melanie Subono, David Naif, Superman Is Dead, dan lainnya.
Berkat kerja kerasnya, omzet Hedi pun terus meningkat. Secara merendah, Hedi, yang kini memiliki 40 orang pegawai, menyebutkan nilai omzetnya sekitar Rp 500 juta per tahun.
Aksesoris-Kualitas-Ekspor-oleh-Hedi
Hedi Rusdian Gunawan diusia yang masih muda sudah menjadi pemilik produsen ”buckle” atau kepala ikat pinggang Fourspeed Metalwerks. Tidak hanya kepala ikat pinggang dirinya pun membuat cincin serta beberapa ascesoris lainnya.
Lebih keren lagi, hingga saat ini sudah puluhan orang yang dia pekerjakan baik di Indonesia dan di luar negeri. Link perusahaan pun tidak tanggung, beberapa grup band ibu kota hingga dunia sudah menjadi rekannya seperti Sepultura.
Hedi Rusdian Gunawan (Foto: M Jatnika Sadili)
Hedi Rusdian Gunawan
(Foto: M Jatnika Sadili)
“Pasar kebanyakan ke luar negeri, jumlahnya terbatas satu buahnya bisa mencapai sekitar Rp2 juta. Kita juga pernah kerjasama untuk band lain selain Sepultura, seperti House of Pain, Pantera, Slayer, dan Motorhead,” kata Hedi ditemui di rumah produski Fourspeed Metalwerks di Margahayu Raya, Kota Bandung, Minggu (14/4).
Dia mengaku, ketertarikan band luar khusunya kepada produk yang dia jual adalah, karena menggunakan bahan campuran timah bebas timbal (pewter), selain desain yang mendetail oleh para artisan atau dia sendiri.
Bahkan produk yang kecil seperti cincin bermotifkan tengkorak yang dibuatnya sedetail mungkin, mulai dari lekuk hingga bentuk gigi, maupun hiasan di atasnya hingga sebuah tulisan ”Made with pride in Bandung, Indonesia”. Produk yang sudah jadi kemudian dikirimkannya ke sebuah gudang di Seattle, Amerika Serikat.
“Kita ingin konsumen di luar negeri bisa mengakui kualitas barang buatan Indonesia. Ini juga termasuk bagian dari promosi kebudayaan maupun identitas Kota Bandung sebagai kota kreatif,” tambahnya.
Penjualan bukan hanya di luar negeri, di kampung halamanya, Bandung, dia gencar mempromosikan, walau tidak seramai pasar luar. Dia menilai mungkin karena kelum adanya kesiapan masyarakat Indonesia untuk membeli sebuah kela ikat pinggang dengan nominal besar.
“Tapi tiu hanya sebagaian, beberapa musisi dalam negeri juga sudah bekerja sama dengan Fourspeed Metalwerks, seperti Melanie Subono, band Naif dan Ipang. Beberapa warga lain pun ada,” jelasnya.
Untuk omset yang didapat perbulan, dia enggan membua, namun dua bulan dapat membeli satu motor Harley-Davidson atau motor besar.
Laki-laki lulusan SMA yang tidak lulus dalam tes penerimaan mahasiswa di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) ini mulai merintis sejak tahun 2005 ini, tidak langsung sukses, manis pahit perjalanan pernah dirasakan, bahkan hingga pernah hampir terbakar dan kena ledakan campuran bahan kimia. Penjualan pun tidak lantas diterima ke luarnegeri, berawal dengan menjajakan katalog ke beberapa distro di Bandung.
Meski demikian, dia tidak pernah menyesali jalan hidupnya karena sekarang justru Hedi yang diundang sebagai pembicara oleh mahasiswa FSRD ITB. Bahkan, dia menjadi ”pembimbing” tugas akhir mahasiswa. (**)

Kisah Sukses Eksportir Yang Nggak Lulus Kuliah – Manampin “Pipin” Girsang

 Manampin-Girsang-Pengusaha-Ekportir-Mebel
Anggapan akan pendidikan tinggi yang bisa menjamin langsung sukses setelah lulus kuliah tidaklah 100% benar. Hal ini salah satunya dibuktikan dengan suksesnya seorang eksportir mebel kelas atas yang bernama Manampin Girsang. Kreatif, ulet dan pantang menyerah adalah kunci sukses beliau. Baca profil selengkapnya kisah sukses pengusaha ekportir sukses mebel yang nggak lulus kuliah di bawah ini yang saya culik dari kompas.com.
Mantan Pramuwisata yang Sukses Jadi Eksportir Mebel
Jika tidak bermodal nekat, Manampin Girsang tidak akan pergi ke Bali dan sukses menjadi eksportir mebel. Bermodal Rp 1,5 juta dan bahasa Inggris, ia dipercaya mengelola bisnis mebel antik dan akhirnya sukses membuka bisnis sendiri.
Sukses sering berawal dari sebuah pertemanan atau kemitraan. Itu juga yang dialami Manampin Girsang. Berawal dari bekerja sama dengan seorang pedagang barang antik, kini pria kelahiran Brastagi, Sumatra Utara, ini berhasil menjadi eksportir mebel antik ke Eropa, Amerika Serikat, hingga Timur Tengah.
Dengan menggunakan merek Gabe International, produk mebel Manampin sudah dikenal sebagian pengusaha hotel atau vila di luar negeri. Sejak 20 tahun silam, ia memasok mebel antik ke beberapa hotel dan vila mewah di Cayman Island, Kepulauan Fiji, Bahama, dan Mauritius. Tiap bulan, ia mengekspor setidaknya enam hingga delapan kontainer. Nilai tiap kontainer ukuran 40 kaki antara US$ 20.000–US$ 25.000.
Saat ini, selain memiliki gerai mebel di Bali, Pipin, panggilan akrab Manampin, juga mempunyai galeri, workshop, dan pabrik di Jepara, Jawa Tengah. Maklum, beragam produk yang diekspornya, dari meja, bufet, kursi, hingga dipan, semuanya diukir, dipahat, dan dikerjakan para perajin di Jepara.
Semua produk itu rata-rata diekspor tanpa merek, terutama jika pemesannya adalah perusahaan. Berdasar informasi dalam situsnya, klien Pipin antara lain Soneva Hotel, Club Med, serta Great Bay Hotels and Casino. Selain korporat, pelanggan mebel Gabe adalah para pemilik rumah atau vila.
Pipin, kini berusia 42 tahun, tidak menyangka bakal menjadi eksportir mebel seperti sekarang. Sejak kecil, ayahnya yang bekerja di PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengarahkannya untuk belajar teknik. Setelah masuk Sekolah Teknik Mesin (STM) di Brastagi, ia lantas kuliah di Jurusan Teknik Mesin Universitas Indonesia.
Tapi, sebenarnya, anak keempat dari tujuh bersaudara ini lebih menyukai bahasa ketimbang teknik. Saat masih sekolah di STM, ia senang memandu turis yang datang ke Brastagi. Nah, lantaran orientasinya berbeda, Pipin tidak lulus di UI. Alhasil, ia memilih merantau ke Bali pada tahun 1989. “Saya kabur karena drop out,” katanya.
Saat itu, dengan bekal duit Rp 1,5 juta dan kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris, Pipin ingin mencari kerja di Bali. Sementara masih lontang-lantung, ia lebih banyak bergaul dengan para turis dan acap memandu mereka. Lewat seorang teman dari Kanada yang dikenal saat masih di UI, ia bertemu Giovanni, pria asal Italia yang berbisnis di Bali.
Nah, oleh Giovanni, Pipin ditawari menjual bikini aspal. Artinya, merek terkenal tapi palsu. Celakanya, usaha ini tidak berjalan lama. Dia ditangkap oleh petugas keamanan lantaran tidak menjadi anggota paguyuban penjual. “Karena saya bukan anggota mereka, saya dianggap ilegal,” katanya.
Akibatnya, Pipin masuk dalam daftar hitam untuk berjualan dan beroperasi di kawasan Kuta. Giovanni menawari Pipin bisnis lain, yakni berjualan barang antik. “Orang Italia memiliki selera yang bagus untuk seni,” ujarnya. Ia melihat kebutuhan mebel di Bali sangat besar. Giovanni langsung percaya, dan memberi modal kamera dan uang agar pria yang pernah ingin menjadi tentara angkatan laut ini bisa berburu mebel antik.
Berjualan mebel antik
Nah, naluri bisnis Pipin tidak meleset. Ia berburu mebel antik ke Madura dan Jepara. Produknya dijual di Indonesia maupun diekspor ke luar negeri. Sebelum dijual, kadang ia harus memoles, mengecat, dan memperbaiki sendiri mebel antik itu. Pipin mendapat bagian 10% dari hasil penjualan mebel itu.
Karena hasil kerjanya bagus, akhirnya, Pipin mendapat modal Rp 30 juta dari Giovanni untuk membangun workshop di Jepara. “Jepara memiliki banyak talenta dan mebelnya bagus,” katanya. Ia juga mendapat hak untuk mencari pembeli sendiri, di luar pelanggan Giovanni. Tahun 1991, ia resmi mendirikan Gabe International. “Gabe berasal dari nama malaikat, Gabriel,” katanya.
Untuk memperluas pemasarannya, Pipin membuat website. Ia rela merogoh kocek Rp 2,5 juta untuk menyewa jasa pembuat situs. Nah, dari situsnya itu, para pembeli (buyers) berdatangan, kebanyakan dari luar negeri. “Berbisnis lewat internet juga bisnis kepercayaan. Karena itu, saya menjaga kualitas mebel yang saya kirim,” kata Pipin yang sering terjun sendiri menjual produknya.
Mulai tahun 2003, Pipin mengembangkan bisnis sendiri, lepas dari Giovanni yang sedang terbelit masalah keuangan. Saat itu, ia tidak ada persoalan dengan modal lantaran punya simpanan dalam dolar AS yang setara dengan Rp 1,7 miliar. Berbekal itu, Pipin menggenjot penjualan lewat website.
Lantaran selalu menjaga kepercayaan pemesan, pelanggan mebel antik buatan Pipin semakin banyak. Hampir semuanya memesan lewat internet.
Saat ini permintaan ekspor mebel tetap bagus. Ia bahkan menargetkan, dalam beberapa tahun ke depan, nilai ekspornya mencapai Rp 1 triliun per tahun. “Saya juga ingin punya merek sendiri,” katanya. Maklum, ia ingin mengharumkan nama produk asal Indonesia.

Pengusaha Ini Sukses 'Menyulap' Benang Jahit Jadi Lampion Cantik

Banyumas -Perajin lampion asal Banyumas, Jawa Tengah, Marta Afrianto tak pernah berpikir menjadi seorang pengusaha. Berawal dari iseng-iseng karena istri sakit, kini ia menjadi produsen lampion dan memiliki 5 karyawan.

Sosok pria berusia 25 tahun ini, kini kerepotan memenuhi pesanan lampion dan lampu tidur beraneka macam bentuk karakter kartun yang terbuat dari benang jahit. Pesanan pun mengalir dari berbagai kota di Indonesia.

"Awalnya iseng-iseng, karena istri sakit, kalau malam mau ngapain terus saya iseng-iseng buat. Kebetulan lihat kakak juga buat kerajinan ini cuma dia buat hanya 1 macem. Kita coba berinovasi dengan membuat bentuk karakter kartun yang digemari anak-anak yang sedang tren seperti angry birds, hello kitty, mickey mouse, donald bebek serta lampu gantung," kata Marta kepada wartawan di rumahnya, di Desa Pasir Lor, Kecamatan Karanglewas, Banyumas, Senin (9/7/2012).

Selain membuat kerajinan lampion dan lampu tidur yang disesuaikan dengan karakter tokoh yang sedang naik daun. Bisnisnya yang sudah berjalan selama 1 tahun ini terus berkembang setelah pemasarannya merambah ke dunia online.

"Dulu saya buat polos. Tapi karena kendala pemasaran saya coba download-download gambar, coba cari terus hingga mulai ada inovasi-inovasi untuk dari karakter tersebut untuk pemasaran. Ternyata pangsa pasarnya bagus sampai saya keteteran. Saat ini saya masih berani ke pesanan-pesananan saja lewat online. Kita belum berani nyetok," jelasnya.

Menurut Marta, cara membuat kerajinan ini lumayan rumit. Hingga saat ini, karyawannya belum mampu membuat aneka macam lampu dengan berbagai bentuk.

"Baru saya yang bisa membentuknya, pekerja lain paling hanya bisa menggunting, menggulung benang, pasang mata, telinga. Kita masih kesulitan mengajari dan mencari orang untuk membentuk karena harus telaten," tuturnya .
 


http://images.detik.com/content/2012/07/09/480/164934_lamputidurdaribenang1.jpg 

Hary Tanoesoedibjo Multimedia Indonesia

TOKOH WIRAUSAHA SUKSES DARI INDONESIA


  dilahirkan di Kota Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 26 September 1965. Ia merupakan pengusaha sukses asal Indonesia, julukannya sebagai Raja Multimedia Indonesia dan termasuk dalam urutan orang terkaya asal Indonesia menurut majalah Forbes. Setelah menamatkan Sekolah Menengah Atas, ia kemudian memilih masuk ke perguruan tinggi di negara Kanada yaitu Carleton University, Ottawa Kanada. Kemudian setelah menamatkan pendidikan dan mendapatkan gelar Bachelor of Commerce pada tahun 1988, Hary Tanoesoedibjo pun melanjutkan pendidikannya di Universitas yang sama yaitu Carleton University dengan mengambil jurusan magister untuk program Master of Business Administration pada tahun 1989. Hary Tanoesedibjo memang terkenal amat pandai Gelar master of Business Administration hanya ia capai dalam waktu satu tahun saja. 

Hary Tanoesoedibjo merupakan adik kandung dari Hartono Tanoesoedibjo dan Bambang Rudijanto Tanoesoedibjo. Beliau mempunyai istri bernama Liliana Tanaja Tanoesoedibjo dan memiliki 5 orang anak. Ketika tahun 2000 yang lalu Hary Tanoesoedibjo kemudian mengambil alih kepemilikan dari PT Bimantara Citra Tbk yang sebelumnya dimiliki oleh anak mantan Presiden Soeharto yaitu Bambang Trihatmodjo, Hary Tanoesoedibjo kemudian mengusung ambisi ingin menjadi jawara bisnis media penyiaran dan telekomunikasi. Dan, mimpi itu terbukti. Kini Hary Tanoesoedibjo mempunyai banyak stasiun TV swasta seperti RCTI, MNC TV, dan Global TV, perusahaan TV berlangganan Indovision, juga stasiun radio Trijaya FM dan media cetak Harian Seputar Indonesia dan Majalah Ekonomi.

Di bawah naungan PT Media Nusantara Citra (MNC), tak sampai lima tahun, Hary kemudian berhasil menguasai saham mayoritas di stasiun TV tersebut. Saham MNC sendiri 99,9% dimiliki oleh Bimantara Citra. Sejak memiliki Bimantara, Hary kian agresif di bidang media. Ditambah lagi, Hary mempunyai kemampuan menentukan perusahaan-perusahaan media mana yang berpotensi untuk berkembang. Selain itu, banyak orang mengakui, kunci sukses Hary terletak pada kemampuannya menata kembali perusahaan yang sudah kusut alias bermasalah. Ini terbukti ketika pria yang kabarnya pernah tidak naik kelas di masa SMA ini membenahi Bimantara yang terbelit utang.
Sebelumnya, Bimantara juga memiliki stasiun radio Trijaya FM. 

Belakangan, untuk menambah eksistensinya dalam dunia media, Bimantara juga menerbitkan media cetak. Sampai saat ini ada majalah, tabloid, dan koran yang bergabung di bawah bendera Grup Bimantara. Ada majalah ekonomi dan bisnis Trust, tabloid remaja Genie, dan pertengahan 2005 lalu menerbitkan harian Seputar Indonesia. Ke depan, MNC diproyeksikan menjadi perusahaan subholding yang bertindak sebagai induk media penyiaran di bawah Grup Bimantara. MNC juga bakal menjadi rumah produksi yang akan memasok acara-acara ke RCTI, TPI, Global TV, dan semua jaringan radionya. Selain itu, MNC akan membangun jaringan radio nasional di seluruh wilayah Tanah Air. Hary telah membuktikan kemampuannya membangun dinasti bisnis, dengan nilai aset US$ 7,2 miliar. Kinerja bisnis cemerlang itu ia lakukan hanya dalam tempo 14 tahun.

Saat ini Hary memegang beberapa jabatan strategis di berbagai perusahaan terkemuka di Indonesia. Ia ditunjuk sebagai Presiden Direktur PT Global Mediacom Tbk (sejak tahun 2002) setelah sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden Komisaris perusahaan tersebut. Ia adalah pendiri, pemegang saham, dan Presiden Eksekutif Grup PT Bhakti Investama Tbk sejak tahun 1989.

Selain itu, Hary saat ini juga memegang berbagai posisi di perusahaan-perusahaan lainnya

Dari Asongan Jadi Pengusaha Sukses

Menjadi orang sukses adalah pilihan hidup setiap orang yang mau berusaha.
Pemikiran itu yang membawa Wildan, pria berumur 38 tahun, sukses menjalankan beberapa bisnis sekaligus.la membuka bengkel jok mobil Mr. Seat, bengkel knalpot, menjual pisang goreng pasir Pisangku, dan menciptakan kompor hemat bahan bakar.
Kerja keras dan terus menciptakan inovasi dalam berbisnis membuat seorang anak daerah dari Lampung bernama Wildan sukses menaklukkan ibukota. Saat ini,  ia telah memiliki bengkel jok mobil yang sudah dikenal luas kualitas dan inovasinya. Namanya Mr. Seat di daerah Jl. Pangeran Antasari, Cipete, Jakarta Selatan.
Dalam sebulan, Wildan mengaku bisa mengantongi omzet dari pesanan jok mobil antara Rp 200 juta hingga Rp 300 juta. Ia sering mengikuti pameran-pameran mobil dengan memamerkan kreasi jok mobil nyeleneh. “Saya pernah membungkus satu badan luar mobil Avanza baru dengan jok kulit buatan sendiri,” kenangnya.
Di samping itu, Wildan memiliki bengkel knalpot dan AC yang bersebelahan dengan lokasi bengkel Mr. Seat. Tidak hanya itu, sejak dua tahun silam, ia menjajal peruntungan dengan menjual pisang goreng pasir yang kala itu menjadi tren. Ia menamakan pisang pasirnya dengan merek Pisangku. Dari enam gerai miliknya, Wildan mengaku bisa menjual hingga 4.000 potong pisang goreng per gerai setiap akhir pekan. Pada hari biasa, rata-rata penjualannya 2.000 pisang.
Untuk bisa menghemat ongkos produksi pisang pasirnya, Wildan mencoba menciptakan kompor hemat bahan bakar yang membuat proses penggorengan lebih cepat. Kompor bikinannya ini memiliki banyak semburan mata gas sehingga membuat wajan cepat papas. “Dengan menggunakan kompor ini, kami bisa mengefisiensikan bahan bakar dan menambah kapasitas penggorengan,” ujarnya.
Pencapaiannya itu tidak begitu saja dia dapatkan dalam sekejap mata. Ia bahkan tidak menyangka bisa sesukses sekarang. “Semua ini anugerah dan kehendak Tuhan sehingga saya bisa sesukses seperti saat ini,” ujarnya merendah.
Padahal, pada tahun 90-an, Wildan belum menjadi apa-apa. Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan kuliahnya di Lampung lantaran harus segera menghasilkan uang agar bisa melanjutkan hidup secara mandiri. la sempat menjual kartu-kartu ucapan di daerah Blok M sementara belum memiliki pekerjaan tetap. “Saya sering tidur di gudang-gudang daerah Aldiron karena tidak memiliki tempat tinggal tetap,” kenangnya.
Kala itu, untuk mencari pekerjaan lebih layak, selain menjadi penjual kartu ucapan, Wildan juga nyambi menjadi tenaga penjual (salesman) alatalat rumah tangga. “Saya menjalani pekerjaan tersebut sebaik-baiknya walaupun sebagai tukang jualan alat rumah tangga dari rumah ke rumah sering mendapat penolakan,” kenangnya.
Melakoni profesi sebagai tenaga penjual alias salesman alat-alat rumah tangga, Wildan sempat menjadi supervisor. la mulai menabung hasil jerih payahnya. Malang tak bisa ditolak, perusahaan tempat ia bekerja bangkrut. Wildan harus mencari tempat kerja lain agar bisa bertahan hidup.
Tuhan memberi jalan. Dari koneksi sang kakak, Wildan mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan jasa pembebasan tanah. “Saya waktu itu sempat membebaskan tanah di Bali dan Lombok,” ujarnya.
Perlahan tapi pasti, tabungan Wildan mulai terkumpul. Tabungan ini kemudian ia jadikan modal membuka bengkel knalpot dan mesin penyejuk udara alias air conditioner (AC). “Waktu itu, abang Saya juga sudah lebih dulu membuka bengkel yang sama, tidak jauh dari bengkel saya. Lalu, kami patungan mendirikan bengkel, saya ditugasi untuk mengelolanya,” ujar Wildan.
Awalnya bisnis ini tak gampang. Wildan sempat putus asa, sebab ternyata peminat bengkelnya sangat sedikit. Sepi dan terus merugi. Saking frustrasi, sempat terbersit menjual tanah tempat bengkelnya berdiri. Untung langkah ini urung lantaran penawaran harganya sangat rendah. “Mungkin sudah takdir saya tidak boleh menjual bengkel itu,” ujar Wildan.
Tawaran lain datang. Tak seberapa lama, ada seseorang yang ingin bekerjasama membuka usaha jok mobil. Wildan diminta menyediakan tempat dan mencari pesanan, sang rekan mengerjakan pesanan jok mobil. Tapi, lagi-lagi, rencana ini tidak berjalan lancar. Sebab, mitranya selalu mangkir dari tenggat penyelesaian pesanan.
Wildan lantas memutuskan kerjasama. Tapi, satu dari tiga pegawainya menyarankan terus menjalankan bisnis jok ini. Awalnya, ia sempat ragu, sebab ia tidak mengerti sama sekali bisnis jok mobil dan otomotif. Untunglah, sang pegawai yang sudah piawai mau membantu. Wildan mencoba menginvestasikan uangnya dengan membeli bahan-bahan jok. la memberi nama usahanya dengan sebutan Mr. Seat pada tahun 2002. Tapi, usahanya tetap saja sepi.
Wildan belum menyerah. la lalu berusaha mengamati dan mempelajari bagaimana menjalankan usaha jok mobil di tempat lain yang lebih ramai peminat. Selain itu, ia rajin mempelajari teknik pemasangan jok dari media massa. Berbekal ilmu yang didapat, Wildan lalu menerapkannya. la memasang strategi lain: beriklan dengan janji kualitas bagus dan harga miring.
Ternyata, dengan memberi diskon dan gebrakan saat membuka bengkel jok, Mr Seat mulai dikenal orang dan lama kelamaan banyak orang yang datang mengganti jok. “Saya sempat banting harga jok mobil sedan menjadi Rp 1 juta. Padahal, di bengkel lain, saat itu harganya Rp 1,6 juta,” kenang Wildan.
Tidak hanya itu, Wildan juga membuat terobosan dalam berpromosi, yaitu dengan membungkus body mobil dengan kain jok. Setelah itu, ia menambah bola besar dari kulit jok di badan mobil. Tuiuannya, mencuri perhatian masyarakat terhadap merek Mr. Seat. Hasilnya, masyarakat benarbenar tertarik dan memutuskan mengganti jok di Mr Seat.
Namun, kesuksesan bisnis bengkel jok Mr. Seat tidak lantas membuat Wildan berpuas diri. Pada tahun 2005, bisnis pisang goreng Pontianak tiba-tiba populer di Jakarta. Jiwa bisnis Wildan mendorongnya menjajal peruntungan di bisnis ini juga.
Pada awal 2006, Wildan mulai membuat pisang goreng premium dengan merek PisangKu di Bintaro, Tangerang. Kebetulan, ia pernah berjualan pisang goreng sejenis itu di Lampung, meskipun mandek dan gagal. Nah, agar tidak gagal lagi, sebelum membuat PisangKu, Wildan sempat mengantre membeli Pisang Goreng Pontianak yang sudah lebih dulu populer. “Tapi, saya khawatir usaha ini akan cepat mati. Sebab, mereka sangat terbuka soal resepnya sehingga sangat mudah ditiru orang,” ujar Wildan.
Faktanya, banyak sekali pisang pasir goreng sejenis bermunculan. Makanya, Wildan akhirnya membuat resep rahasia dengan pemilihan pisang dari Lampung, bukan dari Pontianak. “Sampai sekarang, karyawan saya tidak pernah tahu resep pembuatan pisang goreng pasir Saya tersebut,” kata Wildan.
Wildan mengaku, kegigihannya dalam menjalankan bisnisnya lahir dari perjalanan hidup sejak kecil. Waktu itu, Wildan harus membantu perekonomian keluarga dengan berdagang teh kotak dan tisu dari bus ke bus saat masih bersekolah di Lampung. Bahkan, ia sempat berjualan bakwan dan es. “Dari sana, saya tahu bahwa manusia harus berusaha jika ingin berhasil,” ujamya.
Saat ini, Wildan bisa membawahi ratusan pekerja di bengkel maupun gerai PisangKu. Kedepan, ia bercita-cita menciptakan makanan murah meriah tapi memiliki keunikan yang bisa menjadi tren di Jakarta. “Masih saya pikirkan jenis makanan apa. Yang jelas, saya akan menjaga bisnis saya terus berjalan,” ujarnya.

Pengusaha Muda Pisang Ijo Raup Omzet Ratusan Juta

 Kini selera makan masyarakat Indonesia makin beragam. Tidak melulu makanan londo cepat saji yang sekarang kian merebak, penikmat kuliner juga mulai melirik makanan tradisional Nusantara. Salah satunya adalah pisang ijo asal Makassar, Sulawesi Selatan.
Menu makanan dengan bahan dasar pisang berbalut tepung berwarna hijau ini sukses dipasarkan Riezka Rahmatiana. Perempuan muda berusia 24 tahun ini sanggup meraup omzet mencapai Rp 850 juta dari hasil jualan pisang ijo dengan merek dagang JustMine.
Padahal, saat memulai usaha pada 2007, dia hanya merogoh koceknya Rp 2 juta. Modal tersebut kemudian habis dibelanjakannya untuk membuat etalase kecil serta bahan-bahan pembuat pisang ijo.
“Waktu buka usaha ini modalnya kecil. Hanya Rp 2 juta,” ujarnya saat ditemui di sela-sela Expo Wirausaha Mandiri di Jakarta Convention Center, Jakarta, Sabtu (23/1/2010).
Riezka berkisah, kesuksesan diraihnya dengan penuh kerja keras. Awalnya, dia pernah menjadi anggota  multilevel marketing (MLM). Karena tidak membuahkan hasil, Riezka beralih menjajal bisnis voucer pulsa yang akhirnya kandas juga.
Tak patah arang, Riezka akhirnya banting setir dan mulai menggeluti usaha di bidang kuliner. Saat itu, dia merintis sebuah kafe di Bandung. Namun, lagi-lagi usahanya gagal.
Akhirnya, pada tahun 2007 Riezka mulai melirik pisang dan berpikir untuk mengemasnya menjadi panganan yang digemari orang. “Saat itu saya hanya berpikir, pisang itu kalau laku dijual enaknya dibikin apa. Akhirnya saya memutuskan untuk memasarkan pisang ijo,” katanya.
Yang unik, Riezka yang asal Mataram, Nusa Tenggara Barat, ini mengaku belum pernah sekali pun menyambangi Makassar. Kunci keberhasilan mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikai Universitas Padjadjaran ini sebenarnya terletak pada kreativitasnya mengembangkan makanan pisang ijo dalam berbagai aneka rasa. Dari pisang ijo tradisional dikembangkan dengan campuran vla yang ditambahkan dengan berbagai rasa, vanila, cokelat, keju, hingga durian.
Bandingkan dengan pisang ijo makassar yang hanya berbungkus terigu berwarna hijau pandan plus lamuran vla ditambah sirup sebagai pemanis. Ada juga yang dilumuri bubur sumsum dan es batu.
Harga pisang ijo JustMine dipasarkan Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per porsi. Semangkuk pisang ijo ini menjadi makanan yang digemari banyak orang. Buktinya, saat Expo Wirausaha Mandiri hari ini, ratusan pengunjung tidak henti-hentinya menyerbu stan pisang ijo ini. Bahkan, dalam hitungan jam, stok pisang ijo milik Riezka ludes.
“Ini makanya telepon lagi minta dikirim ke sini. Pengunjungnya sudah antre dari pagi,” ujarnya.
Untuk mengembangkan usahanya itu, Riezka membuka peluang untuk berinvestasi bagi siapa saja yang berminat dengan sistem waralaba pisang ijo. Hingga kini, ada 20 gerai pewaralaba pisang ijo yang tersebar di Bandung, Jakarta, dan Bekasi. Di samping itu, Riezka juga punya tiga outlet di Bandung.
Untuk menjamin keuntungan bersama dengan para mitra, proses seleksi mitra waralaba pisang ijo cukup cermat. Riezka menjelaskan, untuk menjadi mitra pisang ijo JustMine, cukup dengan investasi mulai dari Rp 6,5 juta.
Nantinya, para mitra akan mendapatkan satu booth, paket perlengkapan booth lengkap, paket promosi, jaminan kualitas produk, biaya deliverytrainning karyawan, dan hak pakai booth.

Sabtu, 19 Juli 2014

Kisah BISNIS KUE ‘Merubah’ 2 juta menjadi 10 Milliar – VILLA KEK PISANG

selvy
Peluang Wirausaha bisnis modal kecil bisa dirintis dari bermacam bidang, diantaranya kue oleh oleh. Berdiri pada 2007, Selvi Nurlia berhasil mengembangkan oleh-oleh khas Batam dengan merek ‘Villa Kek Pisang’. Sempat merintis penjualan kerupuk udang, klepon ataupun rumah makan padang, ‘jodoh’ Selvi tampaknya berlabuh ke bolu pisang tersebut.
.
Usaha bolu dari perempuan berusia 30 tahun lulusan Teknik Elektro, Universitas Andalas, Sumatera Barat dan suaminya itu, diawali dengan membuat kue bolu pisang yang dibungkus plastik dan diedarkan ke berbagai warung dengan harga Rp 1.000.
.
Suaminya berujar bahwa kue pisang istrinya bisa dijadikan bisnis. “Kek pisang kayaknya bagus kalau tidak dibuat kecil-kecil. Apalagi, kue dalam ukuran kecil cenderung sia-sia jika tidak berhasil dijual.” Akhirnya, mereka memutuskan menjual kue pisang dalam ukuran besar, seperti brownies.
.
Dengan modal Rp 2 juta yang kebanyakan dibelikan bahan baku seperti gula dan tepung terigu per sak, pasangan suami istri ini ini serius menggarap bisnis barunya. Nama Villa dipakai sebagai merek dagang oleh Selvi karena dia dan suami tinggal di perumahan Villa Muka Kuning.”Nama ini cepat dihapal dan tidak susah diucapkan oleh masyarkat. Jadi orang nyebutnya plong.”katanya.
.
Selvi juga membuat perubahan bentuk produk, dari bulat menjadi kotak dengan alasan menambah nilai jual. Selvi berkiblat kepada Brownies Amanda. Sebelum diedarkan ke pasaran, Selvi juga memutuskan untuk menjual produk dengan rasa lebih dari satu
“Kami saat itu berpikir enaknya diberikan rasa apa ya? Karena di rumah saat itu ada selai strawberry kami coba dan ternyata rasanya lucu. Salah satu keuntungan pisang adalah cocok dengan selai apa saja,”katanya. Setelah mulai percaya diri dengan produk dan variannya, Selvi membuat logo dan kemasan agar menarik untuk dijual.
.
Akhirnya, Villa Kek pisang ini resmi berdiri 20 Februari 2007 di sebuah rumah tipe 36. Awalnya mereka mengajak tetangga untuk membantu menjualkan produknya di kantor dengan bonus imbalan sebesar Rp 3000 per kue. Selvi menjual kue tersebut dengan harga Rp 12 ribu untuk original dan Rp 15 ribu untuk variannya. Produksi ini dibantu dengan satu orang ibu tetangga dan 2 pasutri saudara mereka.
 Momentum kebangkitan kue tersebut terjadi saat Selvi kedatangan pembeli yang memesan sebanyak 8 kotak untuk dibawa ke Medan sebagai oleh-oleh pada November 2007. Dari situ, Selvi berpikir untuk memposisikan kue buatannya sebagai ‘bolu khas Batam’. Selvi segera mengubah positioning produk dengan mengubah harganya menjadi Rp 35ribu dan mengganti taglinenya dari So Cozy So Delicous menjadi “Batam, Ya Kek Pisang Villa”. “Kami mengubah harga dan pembeli malah tidak lari karena ada kebutuhan di sini yaitu oleh-oleh. Jadi pasar kita berubah tapi malah makin banyak,”katanya.
.
Usahanya kian berkembang. Namun, positioning itu ternyata juga mendapatkan banyak tentangan dari orang asli Batam. “Saya sudah tinggal sampai 20 tahun ini di sini, tetapi kamu seenaknya saja menyebut sebagai oleh-oleh. Siapa kamu yang baru tinggal di sini,”katanya menirukan orang-orang sekitar. Namun, Selvi menambahkan, “Kami cuma menghadapi itu semua dengan senyuman.”
.
Rumah produksi dipusatkan di Batam Center, yang kini sudah mempunyai 2 outlet yang berdampingan dan Nagoya yang tempatnya yang lebih luas dan dijadikan tempat produksi. Di Kini sebagai sarana delivery Selvi sudah mempunyai 3 unit mobil dan 4 armada motor.Seiring berkembangnya bisnis kue tersebut, kualitas tetap harus dijaga. Untuk itu, Selvi menerapkan pemisahan manajemen pemegang bahan, pemegang oven, pemegang pengadukan, pemegang timbangan dan lainnya. Sedangkan pemegang resep diberikan kepada orang yang dipercaya. “Hal ini dilakukan agar kualitas kue terus sama.”
.
saat ini Dengan omzet Rp10 miliar per tahun, impian membuka cabang di 40 kota pada 2015 pun rasanya tidak terlalu muluk.

Kisah Pengusaha Sukses Wanita, BISNIS USAHA Makanan MODAL KECIL 100 ribu -DONAT DKU –


 
1450844907p
kisah pengusaha sukses wanita kali ini menampilkan kisah sukses bisnis makanan donat bermodal seratus ribu rupiah
.
Berawal dari hobi membuat kue, Rosidah Widya Utami kini sukses mengembangkan bisnis pembuatan donat dengan brand Donat Kampung Utami (DKU). Omzetnya dalam sebulan mencapai ratusan juta.
.
Usaha ini, ia awali dari bisnis skala kecil-kecilan di Jombang, Jawa Timur. Utami pertama kali merintis bisnis tahun 2001. Sebagai jajanan kampung, saat itu donatnya dijual dengan harga Rp 500 per biji.
.
sebenarnya Selepas lulus kuliah Fakultas Administrasi Negara Universitas Brawijaya, Malang, Utami sempat bekerja sebagai tenaga administrasi. Namun, kecintaannya pada dunia masak-memasak mendorong Rosidah untuk membuka usaha sendiri.
.
Di tahun 2001 itu, Rosidah Widya Utami mulai membuka bisnis aneka masakan, termasuk kue. Modal awalnya hanya Rp 100.000. Setelah beberapa bulan berjalan, Rosidah terpikir untuk memfokuskan usahanya pada satu jenis makanan. Ia pun memilih donat dengan pertimbangan kue ini termasuk jajanan yang disukai semua kalangan.
.
Ia merintis usaha pembuatan donat dengan modal dan peralatan seadanya. Untuk mengaduk adonan donat, semisal, seharusnya memakai mixer ukuran besar. Namun, Rosidah memakai mixer biasa. “Peralatan saya sangat minim. Di bawah standar pabrik kue. Tapi itu tidak menyurutkan semangat saya,” ujar Utami.
.
Dibantu seorang pembantu, ia membuat ratusan donat saban hari dan menjajakan ke sekolah-sekolah. Agar produknya makin dikenal, Rosidah juga rajin mengikuti berbagai pameran wirausaha makanan. Setiap ada pameran di sekitar Jawa Timur, ia pasti ikut serta.
.
Bukan cuma itu saja, Utami juga memasarkan donat buatannya yang diberi merek Donat Kampung Utami (DKU) lewat blog pribadi.
.
Sehari-hari, Rosidah tak pernah lupa menuliskan setiap aktivitas seputar usaha donat yang ia geluti, di blog. Bahkan, rezeki mengalir deras berkat blog pribadi tersebut.
.
“Saya pilih donat karena banyak yang suka,” katanya. Ia memulai dengan peralatan rumah tangga seadanya dan menitipkan donatnya ke sekolah-sekolah.
.
Berkat kegigihannya membesarkan usaha, kini donat Utami sudah dikenal di berbagai wilayah Indonesia. Bahkan, donatnya sudah kesohor hingga ke luar negeri.
.
Tentu bukan lagi jajanan kampung, donat buatan Utami kini masuk kategori premium. Rasanya tak kalah dengan donat kelas mal dengan harga lebih terjangkau. “Saya jual Rp 4.000 per buah,” katanya.
.
Pelanggan donatnya terbesar di berbagai daerah di Pulau Jawa, Sumatra, hingga Kalimantan. “Selama ini, saya banyak kirim ke pelanggan di daerah-daerah,” ujarnya.
.
Sejak tahun 2008, beberapa negara, seperti Hong Kong, Malaysia, dan Singapura juga telah menjadi langganan tetap donat buatan Utami. Selain itu, ia juga memasarkan produk donat itu ke London dan Belanda.
.
Khusus di Malayasia, ada seorang pengusaha kuliner setempat yang mengembangkan donat dengan resep donat racikan Utami.
.
Kesuksesan Rosidah Widya Utami mengembangkan bisnis donat tidaklah dalam sekejap mata. Ia ulet mengenalkan produknya lewat berbagai cara. Titik baliknya saat ada investor Malaysia membeli resep donat buatannya.
.
Pada tahun 2008, ada investor Malaysia tertarik untuk membeli resep donat milik Utami. Bahkan, ia sampai diundang ke Malaysia.
.
Sang investor Malaysia itu kemudian membuka gerai donat di Penang Malaysia dengan nama Nash Donut. Kini Nash Donut telah memiliki empat gerai yang berasal dari resep dasar Rosidah. Tiap bulan Nash masih membayar royalti pada Rosidah.
.
Hasil dari penjualan resep plus pembayaran royalti itu cukup lumayan. Rosidah memanfaatkannya untuk mengembangkan usaha yang membuka gerai donat di Jombang. Pada 2009, Rosidah mulai membuka gerai donat bernama Roshberry Donuts and Coffee di Jombang.
.
“Sementara di negara-negara lain saya hanya menjual donat lewat orang-orang Indonesia yang tinggal di negara itu, seperti pelajar dan TKI,” jelasnya,
.
Kendati tak mau menyebut angka, Utami mengaku nilai penjualan resep donatnya cukup mahal. Terbukti, dari hasil menjual resep itu, ia mampu membuka gerai khusus donat di Jombang. Gerai donat ini dinamakan Roshberry Donuts and Coffee.”Saya dirikan tahun 2009,” tuturnya.
.
Selain resep, pengusaha asal Negeri Jiran itu juga membeli tepung donat dari Utami. Selama ini, ia memang memasarkan tepung donat ke kalangan umum tidak hanya ke pengusaha Malaysia itu. Harga jual tepung donat mulai Rp 50.000-Rp 200.000 per 1,5 kilogram (kg).
.
Selama 11 tahun mengendalikan usaha, telah banyak kemajuan yang dicapai. Bahkan, DKU telah menjelma sebuah grup usaha yang membidangi beberapa cabang usaha.
.
Selain donat, Utami juga merambah usaha pembuatan aneka kue kering, kue tart, brownies, dan roti manis. Usaha ini dikelolanya di bawah bendera DKU Cookies. Pendapatan dari kue kering ini melonjak tajam saat Lebaran dan akhir tahun. “Lebaran tahun ini, omzet saya dari penjualan kue kering saja mencapai Rp 500 juta,” ujar Utami.
.
Ia juga merambah bisnis restoran dengan mendirikan rumah makan Sari Rasa di Jombang. Tahun ini, Utami juga telah menambah tiga bisnis baru ke dalam grupnya. Di antaranya bisnis toko oleh-oleh khas Jombang. Dua lainnya tidak terkait dengan bisnis makanan, yakni jasa hosting desain web dan marketing, serta bisnis fashion and jewelry.
.
Rosidah sadar akan pentingnya peran marketing agar usahanya makin berkembang. Rosidah pun mulai membenahi sistem pemasaran dan operasional usahanya. “Melihat di Malaysia, donat saya bisa dipasarkan dengan baik, saya mulai fokus membenahi manajemen,” ujar dia.
Dengan membuka gerai donat, Rosidah juga ingin agar donat buatannya itu naik kelas sehingga lebih bergengsi. Kualitas donat produknya dinaikkan ke kelas premium dengan harga Rp 4.000 per buah. Logo dan kemasan donatnya pun ia buat dengan standar yang lebih baik.
.
Utami juga membuat website sendiri, bahkan mengiklankan produknya secara berbayar via sejumlah media internet, seperti Google dan Facebook.
.
Tak percuma, permintaan pun mulai berdatangan. Bahkan juga dari pembeli luar negeri. Toh, sukses mengembangkan bisnis donat belum membuat Rosidah puas.
.
Rosidah Widya Utami kini sukses menjadi produsen donat ternama di Jombang, Jawa Timur. Dipasarkan dengan brand Donat Kampung Utami (DKU), produk donatnya dikenal luas hingga ke luar negeri. Omzetnya ratusan juta dalam sebulan.
.
Bisnis yang digeluti Rosidah Widya Utami kini makin berkembang. Selain makanan, ia juga merambah bisnis lain, seperti perhiasan, fesyen, dan jasa pembuatan desain web. Ia ingin semua lini usahanya tersebut bisa berkembang.
.
Berawal dari donat, bisnis Rosidah Widya Utami terus berkembang. Setelah donat, ia merambah bisnis kue kering dan rumah makan di Jombang, Jawa Timur.
.
Masih di bisnis makanan, tahun ini ia juga mendirikan toko oleh-oleh khas Jawa Timur di Jombang. Selain menyediakan sejumlah suvenir khas Jombang, toko oleh-oleh ini juga menjual aneka kue kering serta Donat Kampung Utami (DKU) buatannya.
.
Ia berharap, toko ini bisa menopang usaha donat dan kue keringnya. Ia juga ingin menjadikan DKU sebagai pusat oleh-oleh khas Jombang. “Saya maunya nanti orang-orang akan bilang belum afdal ke Jombang kalau belum bawa jajanan DKU,” ujar Utami.
.
Selain makanan, tahun ini juga merambah bisnis perhiasan, fesyen, dan jasa pembuatan desain web. Ia tertarik terjun ke bisnis desain web karena selama ini banyak bersentuhan dengan dunia maya. “Saya mengembangkan usaha donat melalui internet,” ujarnya.
.
Kebetulan, suaminya yang berlatar belakang konsultan marketing mendukung rencananya ini. Bisnis perhiasan dan fesyen yang baru digeluti Rosidah juga dilatarbelakangi minatnya yang tinggi di bidang itu.
.
Menurutnya, dalam mengembangkan usaha jangan pernah menutup kemungkinan terhadap bidang apa pun yang diminati. Ia mengaku, seluruh bidang usaha yang digelutinya berasal dari minat dan ketertarikannya di bidang itu. “Semula yang saya pikir tidak bisa, ternyata bisa. Dan, saya memulai semuanya dari skala kecil,” ujar Utami.
.
Di dunia usaha, ia mengaku banyak terinspirasi dari kisah sukses Johnny Andrean, pemilik gerai donat J.Co. Kendati besar di usaha salon, Johnny juga bisa sukses di usaha donat.
.
Rosidah pun yakin ia bisa melakukan hal serupa. Makanya, dari bisnis donat, ia juga merambah dunia fesyen.
.
Lantaran masih baru, tentu masih diperlukan kerja keras untuk membesarkan seluruh usahanya ini. Selain bisnis yang masih baru, Rosidah juga masih terus ingin mengembangkan bisnis donatnya.
.
Masih ada beberapa inovasi lain yang ingin dilakukannya. Dalam waktu dekat, misalnya, ia ingin memasarkan donat dalam bentuk makanan beku (frozen food).
.
Ia terinspirasi membuat donat frozen karena banyak konsumen di luar kota yang berminat mengonsumsi donat DKU, namun terkendala waktu pengiriman yang lama. Padahal, donat DKU hanya mampu bertahan maksimal sehari.
.
Ia berharap, masalah itu bisa diatasi dengan adanya donat frozen. Rosidah mengaku sudah melakukan penelitian untuk donat frozen ini.
.
Nantinya, donat ini bisa bertahan selama satu tahun jika disimpan pada suhu rendah. “Donatnya pun tinggal digoreng lalu bisa langsung disajikan,” ujar Rosidah.
.
Ia berharap, tahun depan rencana ini sudah mampu terealisasi. Masih terkait dengan donat, ia juga akan membuat divisi cooking class. Divisi ini khusus memberikan kegiatan kursus pembuatan donat.
.
Kursus membuat donat ini sebenarnya sudah dirintis sejak tahun lalu. “Tapi belum serius. Karena peminatnya banyak, ingin saya seriusi lagi,” imbuh Utami.

Cerita Sukses Peluang Usaha Rumahan, Bisnis Makanan Modal Kecil Omset Besar – SAMBAL ROA JUDES

images-andes-AKU BISA-300x199
Cerita Sukses Peluang Bisnis Rumahan kali ini menceritakan kisah perjalanan sukses wirausaha sambal bermodal kecil yang akhirnya beromset ratusan juta.
.
Gara-gara diberi oleh temannya yang tinggal di Manado, Rimayanti Wardani Adiwijoyo atau akrab disapa Rima,mengaku kecanduan menyantap sambal yang dibuat dari campuran ikan roa. Pertama kali mengenal sambal ikan roa, Rima masih mengenyam pendidikan di InterStudi, Jakarta, yaitu tahun 1999. Setiap teman satu kosnya datang dari Manado, Rima selalu minta dibawakan oleh-oleh sambal ikan roa.  “Karena suka, saya pun minta diajarkan membuat sambal ikan roa oleh kerabat teman saya yang tinggal di Manado. Melalui arahan di telepon, saya coba-coba belajar membuatnya. Namun, resep sambal saya ubah sedikit agar rasanya sesuai dengan lidah saya,” cerita Rima .
.
Kegemaran Rima menyantap sambal ikan roa membuatnya jadi sering memasak sambal khas asal Sulawesi  ini. Lama-lama ia pun semakin piawai. Namun, kala itu Rima tidak berniat menjual sambal buatannya. Lalu, pertengahan tahun 2012 , wanita kelahiran Jakarta, 9 Maret 1980 ini dibawakan oleh-oleh ikan roa dari temannya yang datang dari Manado. Mengingat kegemaran Rima menyantap sambal ikan roa, sang teman membawakan ikan dalam jumlah banyak. Rima lantas memasak semua ikan roa  pemberian temannya tersebut. “Setelah saya jadikan sambal, hasilnya jadi sangat banyak. Iseng-iseng , sisa sambal roa yang berlebihan tadi saya masukkan ke dalam toples selai. Ternyata, dapat delapan  toples ,” ujar ibu dua anak ini.
.
Rima memotret toples-toples berisi  sambal buatannya, lalu memajang foto itu di profil BlackBerry mliknya. “Tidak lama memasang, teman-teman kantor langsung minta dibawakan. Dalam sekejap, sisa sambal bikinan saya laku terjual di kantor,” ungkap Rima semangat. Bahkan, teman-teman satu kantor yang tidak kebagian sambal roa buatannya pun lantas minta dibuatkan. Melihat banyaknya permintaan teman kantor, wanita yang pernah bekerja sebagai asisten manajer pemasaran di salah satu perusahaan provider telekomunikasi ini terpikir untuk membuka usaha. “Saya langsung hubungi teman yang kenal dengan pemasok ikan roa dari Manado. Syukurlah, ada sebuah koperasi di Manado yang bisa memasok ikan roa asap sebagai bahan utama sambal. Jika beli di Jakarta harganya sangat mahal,” ujar Rima.
.
Naik Turun Angkot
Dengan uang Rp500 ribu, Rima mulai memproduksi bisnis rumahan sambal ikan roa. Sepulang dari kantor, ia langsung masuk dapur untuk mengolah ikan roa asap. Sang suami, Ciptoning Adiwijoyo, juga ikut turun tangan. Jika Rima banyak berkutat di dapur, suami yang seorang analis bisnis berinisiatif membantu Rima berbelanja bahan baku di pasar, seperti cabai dan bawang. “Sepulang dari kantor suami saya mampir ke pasar Pondok Gede. Pulang-pulang ia sudah menenteng bawang dan cabai,” kenang Rima. Biasanya Rima mulai beraksi setelah menyusui anak. Dengan hanya bermodalkan ulekan tangan, ia berkutat di dapur. Kadang Rima baru selesai memproduksi sambal pukul 3 pagi, namun ia tak pernah mengeluh. “Istilahnya, ada cinta di setiap ulekan,” ujarnya sambil tersenyum.
.
Kemudian , Pengusaha wanita ini mulai memikirkan cara mengemas sambal roa buatannya agar lebih menarik. Ia membeli botol-botol plastik di pasar di daerah jalan Pramuka di Jakarta. Desain logo juga dibuat oleh Rima sendiri. Logo bergambar ikan roa yang memiliki sembilan sirip ini melambangkan tanggal kelahirannya. Sementara warna merah pada logo menandakan rasa sambal yang pedas. Kemudian tercetuslah nama Sambal Roa JuDes. JuDes artinya Juara Pedas. Ini untuk menggambarkan cita rasa sambal yang pedas dan gurih.
.
Sebagai langkah awal, Rima menjajakan sambal produksinya di kantor. Ia masih ingat betul betapa banyaknya tantangan yang harus dihadapi saat memulai usaha makanan ini. Setiap pagi, dengan membawa ransel dan tentengan berisi berbotol-botol sambal, ia berangkat menuju kantor. Bukan dengan mobil, tapi naik turun angkot dan busway. “Dalam hati saya berujar. Suatu saat nanti, apa yang saya alami ini bisa menjadi kebahagiaan di masa yang akan datang,” kenangnya. Di hari pertama, delapan botol yang dibawanya habis terjual. Keesokannya ia datang dengan 10 botol. Itu pun langsung ludes. Hari demi hari produksi mulai meningkat.
.
Melesat Lewat Reseller
Ternyata, selain untuk dikonsumsi sendiri, banyak yang berminat untuk ikut menjual Sambal Roa JuDes sebagai peluang usaha yang menjanjikan. Banyaknya peminat untuk menjadi reseller membuat Rima semakin yakin kalau sambal buatannya memiliki prospek bisnis yang bagus. “Niat saya bukan hanya mengincar materi, tapi juga membantu teman-teman, khususnya perempuan, agar bisa memiliki pendapatan tambahan. Saya ingin menanamkan prinsip saling berbagi,” ujar wanita yang juga bekeja sebagai dosen paruh waktu bidang ilmu komunikasi pemasaran di salah satu universitas swasta ini. “Sedari dulu saya sudah hobi berjualan. Waktu SMP saya berjualan wirausaha aksesori, waktu kuliah dan bekerja sempat berjualan parfum. Saya tahu bagaimana senangnya jika kita bisa mempunyai penghasilan tambahan. Apalagi bagi para ibu rumah tangga,” celetuknya,
.
Karena jadi penjual sambal, Rima dipanggil juragan oleh teman-temannya di kantor. Akhirnya nama sebutan juragan ini dipakai Rima untuk menyebut dirinya sebagai produsen. Sementara istilah bandar, digunakan untuk menyebut nama resellernya. Karena permintaan semakin melonjak, ia pun mulai memikirkan sistem yang lebih baik. Juli 2012 Rima mulai menerapkann metode baru. Ia menggaet lima orang distributor yang terdiri dari teman-teman dekatnya. Para rekanan yang disebut Distributor Bintang Lima ini memegang area penjualan tertentu dan bertugas merekrut atau menerima kerjasama dengan para reseller.
.
Menurut Rima, “nyawa” dari Sambal Roa JuDes terletak pada sistem penjualan langsung. Dengan sistem pemasaran melalui reseller, ada silaturahmi yang terjalin antara pembeli dengan sang reseller.  “Dengan sistem reseller, otomatis barang tidak “parkir” di etalase. Sementara itu, kalau saya menitip di toko, tidak ada komunikasi yang terjalin antara penjual dan pembeli. Barang otomatis tidak berpindah tangan,” jelas Rima. Untuk distributor dan reseller, Rima menerapkan jumlah minimum pembelian. Tentu saja reseller dan distributor akan mendapatkan harga di bawah harga eceran. “Keuntungan yang didapat dari para distributor dan reseller ini bisa mencapai 20 – 30 persen,” imbuh Rima.
.
Promosi Lewat Komentar  Selebriti
Penjualan juga melonjak drastis saat Rima gencar melakukan promosi melalui media sosial, seperti Facebook dan Twitter. Apalagi saat ia menerapkan sistem endorse atau memberikan secara cuma-cuma Sambal Roa JuDes pada beberapa selebriti. Saat menerima produk sambal roa buatan Rima, selebriti tersebut lantas memajang foto dan memberi komentar di Twitter. Komentar para selebriti inilah yang dijadikan Rima sebagai bahan promosi. Pasangan Hanung Bramantyo dan Zaskia Mecca, penyanyi Nina Tamam, presenter Andhara Early serta koki dan pengamat kuliner Bara Pattiradjawane merupakan sebagian artis yang sudah memberikan komentar tentang nikmatnya menyantap Sambal Roa JuDes. “Saya cuma minta alamat mereka, lalu kirim sambalnya,” papar Rima berbagi tip.
.
Dalam bulan Februari 2013, penjualan sambal roa ini mencapai 3.000 botol. Sang suami lalu menyuruh Rima untuk fokus pada usahanya ini. “Suami bilang, saya tidak boleh serakah. Rezeki ini titipan Tuhan. Artinya, bisa diambil kapan saja. Saya disarankan untuk memilih satu, antara pekerjaan kantoran atau berjualan sambal,” cerita Rima. Menurut sang suami, dengan melakukan dua pekerjaan sekaligus, ia menjadi orang yang mudah korupsi. Misalnya, korupsi waktu. Memang, karena sibuk mengurusi sambal, kadang Rima terlambat sampai kantor. Selain itu, otomatis ia sering menggunakan fasilitas kantor untuk menunjang usaha, misalnya kertas atau printer. “Karena tidak mau jadi orang yang seperti itu terus, saya pun menuruti nasihat suami,” papar Rima.
.
Di bulan Februari 2013, Rima akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja. Satu hal yang menguatkan keputusannya untuk berhenti menjadi pegawai adalah karena ia sudah bisa membayar perjalanan  ibadah Haji untuk ibundanya yang kini menjadi orang tua tunggal. “Berkat hasil penjualan sambal, saya bisa mewujudkan cita-cita membayar perjalanan Haji untuk Ibu. Niat ini sudah terlintas sejak almarhum Ayah tiada tahun 2011. Saat bekerja kantoran keinginan ini tidak pernah tercapai karena uangnya tidak pernah ter-kumpul,” ujar Rima terharu.
.
Berhasil Wujudkan Resolusi
Sejak Rima berhenti bekerja, omzet sambal roa meningkat drastis. Di Januari omzet sambal baru mencapai Rp30 juta, sedangkan di April Rima sudah mengantongi omzet Rp170 juta. Dalam dua hari ia memproduksi 500 botol sambal. Selain di Indonesia, Sambal Roa JuDes seharga Rp37.500 per botol ini juga sudah memiliki reseller di berbagai negara, seperti Jerman, Kanada, Jepang  dan Jeddah. Salah satu pasar swalalan juga menjual Sambel Roa JuDes di outlet. Namun, menurut Rima, penjualan terbanyak  tetap diraih oleh para distributornya.
.
Salah satu kunci kesuksesan Pengusaha Rima adalah kualitas. Wanita itu mengaku sangat selektif memilih bahan baku sambal. Ikan roa asap yang dididatangkan langsung dari Manado harus benar-benar dalam keadaan kering agar sambal tidak berjamur saat telah dimasak. Sementara cabai harus dalam keadaan segar, serta memiliki batang yang juga masih segar.
.
Berkat kegigihan Rima merintis usaha sambal, satu demi satu resolusi yang dirancangnya di akhir tahun mulai terwujud. Salah satunya adalah ia bisa menabung , berinvestasi tanah, serta  wakaf untuk almarhum ayahnya. “Tidak punya uang bagi saya sudah biasa.     Karena itu, rasanya luar biasa sekali       ketika saya bisa memiliki uang dan membaginya dengan orang lain,” ujar Rima menutup percakapan.

Kisah Sukses Wanita Bisnis Wirausaha Modal Kecil Kain Perca


 
peluangusaha-kain
cerita Kisah orang Sukses Pengusaha Wanita Bisnis WIrausaha Modal Kecil Kain Perca – CAREMOMMIES -
Haneda Ananta (35) dan Endah Sutjihati (34) adalah dua sosok di balik suksesnya wiraUsaha Kain Perca. Di bawah bendera usaha Caremommies, keduanya tak cuma fokus menghitung besar modal dan laba. Tetapi, pengusaha yang menciptakan banyak produk dari limbah tekstil ini juga menularkan keahlian mereka kepada orang lain. Mulai dari ibu-ibu yang tinggal di sekitar tempat tinggal mereka, hingga para napi di Rutan Salemba dan Cipinang. Pantas jika mereka menyandang gelar Social Entrepreneur di ajang Lomba Wanita Wirausaha BNI-Femina 2010.
 .
DARI NIAT MEMBANTU
Keinginan untuk menjadi wirausaha yang peduli pada lingkungan dan sesama berawal sejak mereka berdua membuat bisnis kecil-kecilan tahun 2007. Tujuan awalnya cukup sederhana, yaitu sekadar mencari tambahan uang kas sekolah. Kebetulan, keduanya tergabung dalam komite sekolah sebuah taman kanak-kanak, tempat anak mereka bersekolah.
 .
“Idenya, membuat kaus nama untuk anak-anak dengan memanfaatkan kain perca. Saya punya teman yang bekerja di konfeksi, sehingga saya bisa mendapatkan kain perca itu secara gratis,” kenang Endah, sumringah. Sinergi mereka langsung klop. Sebagai lulusan Desain Grafis Trisakti, Haneda sangat kreatif soal desain, sementara Endah jago soal menjahit dan menyulam.
 .
Kaus nama yang dibuat selusin itu ternyata laris manis. Insting wirausaha mulai menggelitik keduanya untuk menekuni proyek khusus ini sebagai bisnis serius. “Dengan modal awal Rp500.000, kami membeli bahan-bahan dan alat untuk menjahit dengan tangan, dan membayar tenaga lepasan,” jelas Haneda.
 peluangusaha kain
Kids & Cook adalah nama yang mereka pakai untuk bisnis pertama mereka ini. Tantangan awalnya adalah kesulitan mencari orang yang terampil menjahit dan menyulam. Namun, kebuntuan ini justru dijadikan celah untuk melahirkan tenaga-tenaga ahli baru. Sasaran Endah waktu itu adalah rekan sesama ibu yang menunggui anak mereka pulang sekolah. “Daripada bengong, saya tawari saja mereka untuk belajar menyulam dan menjahit.”
 .
Ternyata, peminatnya lumayan banyak. Ruang tunggu sekolah itu pun berubah menjadi studio jahit dadakan,” cerita Endah, geli. Usahanya ini tak cuma berhasil menambah keterampilan, tapi juga memberi penghasilan tambahan kepada ibu-ibu rumah tangga itu. “Setiap kaus dengan sulaman atau jahitan nama karya mereka selanjutnya kami beli dengan harga pantas,” tambahnya.
 .
Beberapa bulan berdiri, mereka mulai berani mengikuti berbagai pameran dan bersaing dengan produk lain. Ajang ini tak hanya membuka jejaring bisnis, tapi juga membanjiri mereka dengan ide dan masukan dari para konsumen. Produksi mereka pun jadi lebih bervariasi. “Kini produk kami mencapai 30 jenis dengan kisaran harga Rp10.000 – Rp2,5 juta. Agar menonjol dari produk kompetitor, kami selalu berusaha menggali ide desain baru yang orisinal,” ungkap Haneda.
 .
Terbukti, produknya banyak diminati konsumen. Kain kanvas berwarna putih disulapnya menjadi cantik dengan berbagai tisikan sulam warna-warni atau tokoh kartun yang sedang digandrungi anak-anak. Untuk menjaring konsumen ibu-ibu, mereka menambah variasi produk baru, seperti jalinan kain perca yang dibentuk menjadi celemek, sarung bantal, bed cover, dan kain cempal (untuk mengangkat barang-barang panas). Dengan begitu, jangkauan konsumen mereka meluas, dari anak-anak hingga ibu-ibu. “Sekarang kami sedang berusaha menjaring konsumen remaja. Salah satunya lewat produk sampul buku dari kain sulaman yang unik dan girlie,” kata Haneda.
 .
Bisnis yang meningkat pesat membuat mereka terpikir untuk mencari nama baru. Tahun 2008, Kids & Cooks resmi berganti nama menjadi Caremommies. “Untuk mengokohkan usaha kami, di tahun yang sama kami langsung mematenkan nama Caremommies,” tambah Haneda. Ide untuk memakai nama Caremommies ini dirasa cukup mewakili passion dan misi bisnis mereka. Kata care atau peduli memang menjadi penekanan dalam usaha. Kecintaan mereka terhadap anak-anak tertuang pada beragam pernak-pernik lucu yang mereka produksi.
 .
Dalam proses usahanya, mereka juga selalu berusaha memperhatikan lingkungan, dengan memakai bahan baku potongan kain limbah pabrik tekstil yang mereka beli dari agen. Tak cuma itu, mereka juga tergerak untuk memberdayakan wanita. “Kami ingin wanita tidak hanya berdiam diri, menunggu dinafkahi oleh suami, melainkan bisa berwirausaha. Melalui kursus gratis menjahit dan menyulam, kami siap mewujudkan impian mereka ini,” ungkap Endah.
 .
Meski belum lama di dunia bisnis ini, Endah dan Haneda tahu benar pentingnya branding. Tahu modalnya terbatas, sejak awal mereka memakai pendekatan online untuk mempromosikan produk, yaitu melalui situs caremommies.com dan akun facebook dengan nama sama. Ternyata, cara ini berhasil menuai sambutan dan feedback positif. Ditambah ulasan berbagai media, Caremommies pun makin berkibar. Berkat ketekunan mengikuti berbagai bazar berkualitas, sejak 2010 Caremommies berhasil menembus Alun-Alun Indonesia dan Galeri Smesco.
 .
Sekarang, memasuki tahun keempat, usaha keduanya telah berhasil meraup omzet Rp20 juta – Rp25 juta per bulan. Dari yang tadinya hanya digarap keroyokan berdua dan membayar pekerja lepas, kini mereka telah memiliki 15 pekerja tetap yang mereka sebut sebagai partner. Saking membeludaknya pesanan, para pemesan harus rela mengantre. “Karena handmade, mereka harus sabar menunggu. Untuk pesanan hari ini, barang baru bisa dikirim dua minggu kemudian. Untungnya mereka bisa mengerti dan mau menunggu,” kata Haneda.
 .
Sebenarnya, untuk mengejar pesanan, mereka bisa saja mengganti jahit tangan dengan jahit mesin. Tetapi, mereka tidak melakukannya. “Selain kehilangan ciri khas produk, visi kami untuk menciptakan lapangan pekerjaan juga tidak akan tercapai,” tekan Endah.
 .

Kisah Sukses Pengusaha Wanita, Wirausaha Kartun Dunia Anak


 
getImageContent
 Kisah Sukses Pengusaha Wanita, Bisnis Wirausaha Motif Kartun Dunia Anak – SIMPLY IDEA -
.
Peluang Usaha yang melibatkan dunia anak anak makin banyak diminati, misalnya saja banyak anak-anak  senang kalau kamarnya berhiaskan gambar-gambar kartun yang mereka suka. Sama-sama punya balita, tiga ibu muda: Dinar Esfandiari Santoso (38), Ira Karmawan (39), dan Rani Soegeng (38), berkolaborasi membentuk Simply Idea, yang menyediakan perlengkapan kamar tidur anak. Ide mereka sederhana, tapi bisnis ini tidak sesederhana itu. Halangan demi halangan singgah, tapi mereka tak menyerah. Malah, untuk memajukan usaha, mereka tak ragu berinvestasi lebih dengan menyewa tenaga konsultan ahli.
.
Mencari Celah Pasar
Tiga bersahabat ini melihat, pemain di bisnis bedding kebanyakan dari luar negeri dan sudah memiliki nama besar. Karena itulah, mereka tak ragu terjun untuk menjadi pemain lokal yang unggul di bisnis ini. Namun, keberanian saja tidak cukup. Belum juga dimulai, rintangan sudah menghadang. Mencari pegawai yang berkualitas ternyata tidak mudah. “Kami harus berburu SDM yang memiliki keterampilan menjahit dan mengaplikasikan bordir sesuai standar kualitas yang telah kami tetapkan,” ungkap Dinar, yang menggunakan bahan polos dan memberi aplikasi lucu kesukaan anak-anak. Aplikasi inilah yang kemudian menjadi ciri khas Simply Idea.
.
Masalah berikutnya hadir: kehabisan modal. Mereka memang belum mau meminjam dari bank, karena merasa belum sanggup berekspansi lebih luas. “Selain ada bunganya, kalau ada uang, kami takut jadi terlalu gampang mengeluarkan uang, sementara kemampuan mengembalikan belum sampai di situ. Akhirnya, karena kebaikan hati seorang anggota keluarga dari partner, kami dipinjami suntikan dana, boleh nyicil tanpa bunga,” cerita Dinar.
.
Tak punya background ilmu bisnis, mereka mencari-cari sendiri celah untuk memasarkan produk. Beberapa kali mereka ikut bazar yang diadakan asosiasi asing di Jakarta. Tak hanya mendapatkan konsumen, mereka berkenalan dengan peserta bazar lain dan mendapat info tentang bazar mingguan yang diadakan sebuah mal. Di sanalah nama Simply Idea mulai dikenal. “Kami lalu memikirkan cara memperluas pasar. Coba-coba, kami hubungi sebuah department store. Kebetulan, produk bedding seperti yang kami buat, belum ada di sana. Mereka tertarik, namun syaratnya, dalam waktu satu bulan kami harus melakukan beberapa revisi, sebelum produk kami bisa dipasarkan di situ, misalnya soal packaging dan cara mencuci,” tutur Dinar, yang waktu itu tak mengerti persyaratan masuk ke department store.
.
Dalam berbisnis, friksi-friksi kecil di antara partner, sih, dianggap biasa. Menyatukan gagasan dari tiga kepala sudah pasti tidak mudah. Justru, mereka tak bisa membayangkan harus mengarungi perjalanan bisnis tersebut tanpa didampingi partner. Dan, mereka memang saling mengisi. Sejak awal, masing-masing sudah memilih divisi yang sesuai dengan bidang yang disenangi. “Saya menangani marketing, Rani bertanggung jawab untuk produksi, sedangkan Ira mengurus keuangan dan kepegawaian,” tutur Dinar, yang bercerita bahwa mereka bekerja secara profesional.
.
Ingin Manjakan Konsumen
Menjaga hubungan baik dengan pelanggan, sangat penting artinya bagi tiga sekawan ini. Karena itu, mereka menyediakan layanan purnajual sebagai bagian dari komitmen untuk memuaskan konsumen. Bentuk layanan itu misalnya membetulkan renda bedcover yang terlepas. Tampaknya sepele, namun layanan ini membuat pelanggan Simply Idea merasa diperhatikan dan dimudahkan. “Bagusnya, hingga kini, tak banyak yang menggunakan layanan ini. Karena, produk kami berkualitas tinggi, baik dari jenis kainnya maupun kerapian jahitan di setiap bentuk aplikasinya,” kata Dinar, yang menetapkan syarat dan ketentuan untuk layanan purnajual tersebut.
.
Setiap 3 bulan, mereka meluncurkan produk baru. Kalaupun mereka merilis produk dengan tema yang sama, motif yang ditampilkan pasti berbeda. Misalnya, tema mobil balap. Jika sebelumnya menampilkan motif mobil A, kini pakai motif mobil B. Bisa juga mereka merilis tema baru, contohnya princess. Semua aplikasi serba princess, dari seprai sampai kelambu, lengkap dengan aplikasi bergambar tongkat peri. Sehingga, saat akan tidur, anak itu seolah sedang berada di kastil, merasa jadi princess betulan.
.
Lalu, bagaimana dengan produk di department store yang belum terjual? “Ditarik, lalu kami gelar big sale selama 4 hari. Wah… yang datang banyak banget,” tutur Dinar, senang.
Dari keinginan memanjakan konsumen, mereka juga bisa membuat produk custom made. Biasanya, konsumennya adalah ibu-ibu yang ingin mengisi kamar anaknya. “Jatuhnya memang jadi lebih mahal, karena harus membuat pola baru. Desainnya bisa mereka gambar sendiri atau kami yang membuatkan,” kata Dinar, yang membolehkan orang memesan via website tanpa minimum order.
.
Karena banyak permintaan, sejak tahun 2006 Simply Idea membuat mukena untuk anak, tetap dengan aplikasinya yang khas. Reaksi pasar luar biasa baik. Setiap awal tahun mereka menyiapkan produk mukena baru. “Dua tahun lalu, buyer menantang kami untuk membuat baju muslim anak. Kami segera mencari konfeksi yang berbeda dari konfeksi untuk pembuatan mukena. Sayangnya, karena tak mau kehilangan order, konfeksi itu melemparkan ke konfeksi lain. Hasilnya benar-benar tidak sesuai. Saat itu kami mengalami kerugian besar,” kisah Dinar, yang ketika itu gagal menyerahkan produk kepada buyer   tepat waktu
Tak Main-Main
Meski produk Simply Idea lucu-lucu, bukan berarti mereka main-main dalam berbisnis. Tak tanggung-tanggung, mereka menyewa konsultan bisnis dan keuangan, yang membantu meraih sederet target yang telah dirancang. “Konsultan itu juga mengarahkan kami dalam berstrategi, menerapkan sistem marketing paling efektif, membenahi keuangan, bahkan memotivasi kami untuk terus maju,” kata Dinar, yang baru menyadari, mereka bisa menerapkan profit sharing, setelah keuangan usaha benar-benar sehat.
.
Salah satu hasil dari konsultasi tersebut, sejak beberapa bulan lalu Simply Idea menambah kekuatan lewat sistem marketing online dan offline. Divisi online lebih banyak bersentuhan dengan konsumen, misalnya memberi info tentang produk terbaru, mencari tahu animo pasar terhadap produk mereka, dan mengumpulkan konsumen ketika ada event besar semacam Inacraft atau big sale. “Sedangkan marketing offline bertugas menjual produk kepada konsumen yang tidak dapat dijangkau oleh sistem online, yang biasanya membeli dalam jumlah besar.” ungkap Dinar.
.
Mereka bertiga Juga berencana memperluas peluang usaha mereka dengan memiliki butik sendiri. Masalahnya hanya satu, yaitu mendapatkan lokasi yang sesuai target pasar. Mereka ingin, lokasinya dilewati banyak calon konsumen berdaya beli tinggi, yang tergolong impulsive shopper. Mengapa ingin punya butik? Toh, karya mereka  sudah masuk di department store ternama dan dipajang di beberapa retail store. “Di butik itu, kami bisa lebih mengembangkan desain dan produk yang lebih variatif lagi. Konsep butik yang kami inginkan adalah toko yang cozy, simpel, clean, dan didesain dalam bentuk kamar tidur anak yang cantik,” cerita Dinar.
.
Sudah selama 5 tahun Simply Idea bekerja sama dengan Mothercare Indonesia, yang seluruh produknya didatangkan dari Inggris. “Mereka membuka kerja sama dengan perusahaan lokal, untuk menjual produk yang tidak didatangkan dari Inggris. “Misalnya, kelambu. Orang Inggris kan nggak kenal kelambu atau bedong. Hanya, kelambu itu harus disesuaikan warnanya dengan boks bayi yang diterbangkan dari Inggris. Ditambah lagi, produk yang kami desain khusus untuk Mothercare Indonesia, tidak boleh ada di tempat lain,” kata Dinar, yang juga menjalankan sistem kerja sama konsinyasi dengan beberapa retail.
.
Tawaran kerja sama dari luar negeri, seperti dari Australia dan Selandia Baru, terus mengalir. Jumlahnya selalu bertambah. Tentunya, menjaring buyer dari luar negeri akan memperkuat arus keuntungan. Sayangnya, sampai saat ini kerja sama itu belum bisa terwujud. “Ada beberapa kesepakatan yang sudah tercapai, misalnya tentang desain produk. Hanya, soal harga, masih juga belum ada kata sepakat. Inilah yang menjadi satu-satunya kendala. Untuk mengantisipasi masalah ini, kami sedang menyiapkan suatu konsep kerja sama baru, yang nantinya akan kami tawarkan lagi kepada para buyer asing tersebut. Bentuk kerja sama: beli putus, dengan keuntungan berimbang antara buyer dan produsen,” kata Dinar.

Profil Pengusaha Muda Sukses, Saptuari Sugiharto – Juragan Kedai Digital

Saptuari-SugihartaAcara Kick Andy edisi 29 Oktober 2011 menampilkan beberapa sosok pengusaha muda kreatif yang sukses dengan usaha – usahanya. Salah satunya Saptuari Sugiharto, seorang pengusaha muda yang merupakan bos dari Kedai Digital. Apa dan bagaimana Saptuari Sugiharto berhasil dengan usaha Kedai Digital-nya? Simak profil pengusaha muda sukses, Saptuari Sugiharto sang juragan Kedai Digital di bawah ini.
Berbeda dengan generasi akhir 1990-an dan awal 2000-an yang umumnya terjun menjadi wirausahawan karena sulit mencari kerja akibat krisis ekonomi yang tengah melanda, generasi pengusaha muda berumur 20-an tahun saat ini tampak memiliki keyakinan diri yang lebih besar. Mereka sejak semula bersungguh-sungguh ingin menjalani hidup sebagai entrepreneur. Salah satu di antaranya adalah Saptuari Sugiharto.
Lelaki berusia 29 tahun itu telah mulai berbisnis kecil-kecilan sejak kuliah di Jurusan Geografi Universitas Gadjah Mada. Tahun ini, ia terpilih sebagai runner-up Wirausahawan Muda Mandiri 2007. Sejak masuk kampus UGM pada 1998, Saptuari telah mendambakan memiliki usaha sendiri. Sembari kuliah; beberapa usaha dijalaninya; mulai dari menjadi penjaga koperasi mahasiswa, penjual ayam kampung, penjual stiker, hingga sales dari agen kartu Halo Telkomsel.
Saptuari-Sugiharta-Founder-Kedai-DigitalLalu, pada 2004, ketika bekerja sebagai event organizer di sebuah perusahaan di Yogyakarta, mantan staf marketing Radio Swaragama FM ini terperanjat melihat antusiasme penonton berebut merchandise berlogo atau bergambar para selebriti. “Heran. Kenapa orang-orang begitu bersemangat mendapatkan kaus, pin, atau apa saja milik artis,” katanya.
“Padahal, mereka bisa membuat merchandise apa saja sesuai dengan kemauannya.” Bermula dari rasa heran itu, pada 2005 Saptuari mengambil langkah berani mendirikan Kedai Digital. Perusahaan itu bertujuan memproduksi barang-barang cendera mata (seperti mug, t-shirt, pin, gantungan kunci, mouse pad, foto dan poster keramik, serta banner) dengan hiasan hasil print digital.
Waktu itu, ia bermodalkan uang sebanyak Rp28 juta; hasil dari tabungan, menjual motor, dan menggadaikan rumah keluarga. Butuh waktu enam bulan bagi lelaki kelahiran Yogyakarta itu untuk memulai kegiatan Kedai Digital. Terlebih dahulu, ia mesti mencari mesin digital printing. Ia mendapatkannya (buatan China) di Bandung.
Ia juga harus mencari tahu sumber-sumber bahan baku. Kemudian, ia harus mempersiapkan tempat usaha, menyusun konsep produk, dan merekrut para staf. Semuanya dilakukan sendirian. Bisnisnya berjalan pelan tapi pasti. Ketika usahanya mulai stabil, Saptuari memberanikan diri merekrut desainer dari kampus-kampus seni yang memang tersedia cukup banyak di Yogyakarta.
Untuk tenaga marketing, digunakan para mahasiswa dari perguruan tinggi lain yang juga tersebar di kota itu. Target pasar Kedai Digital adalah para mahasiswa. Karenanya, menurut Saptuari, perusahaannya tak boleh main-main soal kualitas. Karena itu, ia mesti menggunakan desainer yang memiliki latar belakang pendidikan formal. Pada tahun pertama, Kedai Digital telah berhasil meraih penjualan sebesar Rp400 juta.
Tahun berikutnya, perolehan bisnis melesat menjadi Rp900 juta. Seiring dengan pertambahan outlet, revenue pada 2007 menembus angka Rp1,5 miliar. Hingga akhir tahun silam, Kedai Digital telah memiliki delapan gerai di Yogyakarta. Salah satunya adalah Kedai Supply yang menyediakan bahan baku untuk kebutuhan produksi di seluruh outlet lainnya.
Sementara itu, gerai Kedai Printing dikhususkan melayani pesanan produk-produk advertising seperti banner. Di luar Yogyakarta, Saptuari telah memiliki lima outlet lain (di Kebumen, Semarang, Tuban, Pekanbaru, dan Solo) melalui sistem waralaba. Menurut Nur Alfa Agustina, Kepala Departemen MikroBisnis Group Bank Mandiri (penyelenggara Wirausahawan Muda Mandiri), di antara 500 peserta yang mengikuti lomba, Kedai Digital dinilai inovatif karena merupakan pelopor industri merchandise dengan metode digital printing di wilayah Yogyakarta.
Untuk penilaian dari sisi bisnis, Saptuari mendapat nilai lebih karena bukan berasal dari keluarga pengusaha. Pendidikannya pun tak terkait dengan ilmu ekonomi. Lalu, karena melibatkan banyak mahasiswa dalam menggerakkan usahanya dan mengajarkan mereka soal entrepreneurship, lelaki bertubuh kekar itu mendapat nilai yang tinggi dalam penilaian aspek sosial. Soal yang terakhir itu, Saptuari memang mengajak para pegawainya yang berperilaku baik untuk ikut memiliki saham di outlet-outlet Kedai Digital.
Kini, telah empat kedai yang sahamnya ikut dimiliki para pekerja. “Saya tak mau mereka terus-terusan hanya menjadi pekerja. Mereka juga harus menjadi owner,” katanya. Semangat wirausaha telah ikut disebarluaskan.