Minggu, 20 Juli 2014

pupuk kompos berlaber POST.


APA yang dilakukan ketiga pemuda ini terbilang kreatif dan inovatif. Di tengah sempitnya peluang kerja di sektor formil, nyatanya mereka mampu menciptakan lapangan kerja di sektor non formil lewat wirausaha. Nyatanya, masa depan yang cerah mulai terpancar di hadapan mereka.
Romi Calmaria D SSos, Arief Irvan ST dan Arliansyah, tiga pemuda asal Kabupaten Labuhan Batu Utara yang mulai go public dengan produk usaha kreatif mereka, pupuk kompos berlaber POST.
Idenya, berdasarkan potensi daerah tempat tinggal mereka di Dusun I Simpang Merbau Desa Pulo Jantan Kecamatan NA IX-X Labuhan Batu Utara, sebagai hamparan kebun kelapa sawit. Tentunya, banyak limbah kelapa sawit utamanya tandan buah kosong yang mereka lihat bisa dimanfaatkan untuk menjadi pupuk organik atau kompos.
Jadilah, mereka memproduksi pupuk kompos POST yang kini mulai dilempar ke pasaran, bukan sekadar di kawasan Labuhan Batu Utara, namun juga mulai dikenalkan di kios-kios pupuk kawasan Tapanuli Utara dan Kota Medan.
“Sasaran kami selain petani tanaman perkebunan dan hortikultura yang banyak terdapat di sekitar tempat tinggal kami, juga hobiis tanaman hias atau bunga yang banyak terdapat di Kota Medan. Tahap awal kami memang baru memperkenalkan, namun di waktu-waktu mendatang kami harap pupuk kompos produksi kami bisa diterima masyarakat,” kata Arief.

Namun, mereka mengakui, ide tidak datang begitu saja. Seperti dikatakan Romi, awalnya dia sendiri belum terpikir untuk membangun industri pupuk organik. “Awalnya sih karena tidak ada pekerjaan. Semula saya bekerja sebagai office manajer di sebuah perusahaan, namun karena terimbas krisis lalu saya di-PHK hingga menganggur,” ungkapnya.
Periode Februari-Maret 2009, dia pun coba-coba searching di internet, apa yang tengah ‘heboh’ terutama di daerahnya. Akhirnya dia mendapati kenyataan masyarakat mengeluhkan harga pupuk yang mahal.
Bersama rekannya Arief dan Arliansyah, Romi pun mulai coba-coba memproduksi pupuk kompos. Semula mereka mengambil bahan baku sampah, tapi akhirnya kesulitan karena sulit mengkoordinir masyarakat untuk tidak buang sampah sembarangan. Terbersitlah di benak mereka, untuk menggunakan bahan baku tandan kosong kelapa sawit yang banyak jadi limbah pabrik-pabrik di sekitar daerah mereka tinggal.
Bulan Mei 2005, mereka mulai membuat demplot. Lalu tiga bulan try and error hingga akhirnya mendapatkan formulasi yang pas untuk menghasilkan kompos yang bagus serta cepat.
Dengan wadah usaha CV Bina Tani Sejahtera, mulailah mereka merintis industri pupuk kompos tersebut. “Kami membangun usaha ini dengan investasi sekitar Rp 50 juta, masing-masing untuk membeli mesin pencacah Rp 15 juta, sewa tanah, membeli peralatan serta membayar tiga pekerja lapangan,” papar Arief.
Mereka sudah mampu memproduksi pupuk kompos sebanyak 15 ton/bulan dengan omset Rp 30 juta hingga Rp 40 juta/bulan. Pupuk kompos POST produksi CV Bina Tani Sejahtera dijual dengan kemasan plastik 5 kg seharga Rp 5.000 serta karung 25 kg seharga Rp 50.000.
Kini, ungkap Romi, mereka berencana mengembangkan pembuatan pupuk kompos tersebut dengan bahan dasar campuran tandan kosong kelapa sawit dan kotoran lembu, serta sampah-sampah organik.
“Sebab bentuk serbuk yang dihasilkan dari bahan baku tandan sawit tersebut, kadang jadi halangan dalam pemasaran. Sebagian masyarakat menganggapnya itu hanya ampas. Dengan campuran tadi, kami kira hasilnya bakal lebih halus,” ujar Romi.
Mereka berbangga, bukan saja karena telah terbayang hasil dari membina ekonomi, namun juga karena apa yang dilakukan ini menjadi sumbangan bagi pelestarian lingkungan. Dengan memanfaatkan sampah-sampah organik, dan memperkenalkan penggunaan pupuk organik, berarti juga mereka ikut mengkampanyekan peduli lingkungan. Save the earth, go organic, begitu slogan mereka.
Satu lagi yang membuat mereka bangga, yakni pengakuan atas prestasi sebagai wirausahawan yang berhasil membina ekonomi, lewat anugerah UMK Award yang diberikan PT Bank Sumut baru-baru ini, untuk kategori usaha mikro.
“Mudah-mudahan ini menjadi pendorong kami untuk terus membangun usaha dan sukses berwirausaha,” kata Romi yang diamini rekan-rekannya. (eko)

Hedi Rusdian Gunawan, Anak Muda Sukses Pengusaha Aksesories, 70% Produknya Ekspor

 Hedi-Rusdian-Gunawan-Anak-Muda-Pengusaha-Sukses
Anak muda berwirausaha? Kenapa tidak, jangan pernah sepelekan tentang wirausaha. Anak muda bernama Hedi Rusdian ini sukses menembus ekspor dengan produk aksesorisnya seperti beckel, cincin, kalung yang sepertinya sepele. Nama workshopnya adalah Fourspeed Metal Werks dan sudah di kenal mendunia berkat keunikan hand made nya oleh band – band kelas dunia seperti Sepultura maupun Napalm Death. Baca kisah Hedi Rusdian, Anak Muda Sukses Pengusaha Aksesories, 70% Produknya Ekspor berikut ini yang saya ambil dari tribunjabar.co.id & http://fokusjabar.com.
Sepultura-Pesan-Aksesoris-Ke-Hedi-Fourspeed
Sepultura Pesan-Aksesoris Ke Hedi Fourspeed
SIAPA bilang hobi tidak dapat menjadi pundi-pundi uang? Buktinya, Hedi Rusdian berhasil meraih kesuksesan karena diawali oleh hobinya mengumpulkan dan mengoleksi pernak-pernik berbahan metal atau logam, seperti beckel, cincin, kalung, dan sebagainya.
Namun, ternyata, untuk meraih sukses, Hedi harus melalui jalan yang berliku. Pemuda berbadan tegap ini pernah mengalami kegagalan berbisnis. “Awalnya, saya mencoba menekuni clothing. Saya membuat dan memasarkannya. Tapi, gagal. Saya sempat bangkrut,” aku Hedi membuka obrolan di tempat usahanya, Fourspeed Metal Werks di Jalan Anggrek 42 Bandung, Selasa (13/11).
Meski dirundung kegagalan dan kebangkrutan, Hedi punya mental baja. Pemuda itu tidak putus asa. Sebaliknya, Hedi makin tertantang. Menurutnya, kegagalan itu menjadi pembelajaran penting sekaligus pelecut untuk terus melangkah.
Pasca kegagalan itu, Hedi kembali menekuni hobinya, mengumpulkan aksesori berbahan logam. Ternyata, Hedi mendapat inspirasi untuk memproduksi aksesori tersebut.
Lalu, dia pun mulai mengumpulkan berbagai informasi, seperti proses pembuatan, bahan baku, hingga pemasaran. “Saya mencari data dan informasi dari mana-mana, termasuk internet,” ucapnya. Bermodalkan uang Rp 40 juta, Hedi mulai merintis usahanya. Pada 2005, Hedi membentuk Fourspeed di Margahayu Raya. Saat itu, Hedi mempekerjakan 5 orang karyawan.
Untuk memasarkan produk-produknya, Hedi menitipkannya pada distro-distro. Setelah sekian tahun berjalan, tentunya Hedi ingin memperlebar pasarnya. Mulailah dia memanfaatkan jaringan internet.
Hasilnya? Luar biasa. Produknya diminati beragam komunitas. Hebatnya, komunitas itu banyak dari mancanegara. Mereka antara lain grup band, skateboard, fotografi, dan lainnya. Bahkan, di antara konsumennya, terdapat nama-nama beken. Antara lain, grup thrash metal ternama, Sepultura. “Saat itu, vokalis Sepultura, Derrick Green, tertarik pada produk kami. Dia bertanya, ini produk siapa,” tutur Hedi.
Tentunya, Hedi kaget bercampur bangga produknya diminati grup cadas tersebut. “Dalam akun twitternya. Derrick Green menilai produk kami merupakan produk hand made berkualitas. Ini jadi kebanggaan kami tentunya,” sambung Hedi.
Berkat twitter itulah, katanya, produk-produknya dilirik beragam komunitas. Sejauh ini, artis-artis dunia menjadi pelanggannya. Di antaranya Rob Blasko (Ozzy Osbourne and Friends), Napalm Death, Estevan Oriol (fotografer), Steve Caballero (skateboarder), dan lainnya. Adanya respon itu, pada 2010, Hedi mulai melakukan kerjasama dengan berbagai grup band. Kerjasama itu termasuk dengan Sepultura. Bentuknya dalam hal pengadaan buckle dan cincin.
Kini, Hedi memiliki pasar ekspor. Hampir 70 persen produknya beredar di berbagai negara. Akan tetapi, pihaknya pun tidak menyepelekan pasar domestik. Buktinya, sejumlah artis papan atas tanah air berkolaborasi dengan industri yang dipimpinnya itu. Yakni, Netral, Kaka Slank, Melanie Subono, David Naif, Superman Is Dead, dan lainnya.
Berkat kerja kerasnya, omzet Hedi pun terus meningkat. Secara merendah, Hedi, yang kini memiliki 40 orang pegawai, menyebutkan nilai omzetnya sekitar Rp 500 juta per tahun.
Aksesoris-Kualitas-Ekspor-oleh-Hedi
Hedi Rusdian Gunawan diusia yang masih muda sudah menjadi pemilik produsen ”buckle” atau kepala ikat pinggang Fourspeed Metalwerks. Tidak hanya kepala ikat pinggang dirinya pun membuat cincin serta beberapa ascesoris lainnya.
Lebih keren lagi, hingga saat ini sudah puluhan orang yang dia pekerjakan baik di Indonesia dan di luar negeri. Link perusahaan pun tidak tanggung, beberapa grup band ibu kota hingga dunia sudah menjadi rekannya seperti Sepultura.
Hedi Rusdian Gunawan (Foto: M Jatnika Sadili)
Hedi Rusdian Gunawan
(Foto: M Jatnika Sadili)
“Pasar kebanyakan ke luar negeri, jumlahnya terbatas satu buahnya bisa mencapai sekitar Rp2 juta. Kita juga pernah kerjasama untuk band lain selain Sepultura, seperti House of Pain, Pantera, Slayer, dan Motorhead,” kata Hedi ditemui di rumah produski Fourspeed Metalwerks di Margahayu Raya, Kota Bandung, Minggu (14/4).
Dia mengaku, ketertarikan band luar khusunya kepada produk yang dia jual adalah, karena menggunakan bahan campuran timah bebas timbal (pewter), selain desain yang mendetail oleh para artisan atau dia sendiri.
Bahkan produk yang kecil seperti cincin bermotifkan tengkorak yang dibuatnya sedetail mungkin, mulai dari lekuk hingga bentuk gigi, maupun hiasan di atasnya hingga sebuah tulisan ”Made with pride in Bandung, Indonesia”. Produk yang sudah jadi kemudian dikirimkannya ke sebuah gudang di Seattle, Amerika Serikat.
“Kita ingin konsumen di luar negeri bisa mengakui kualitas barang buatan Indonesia. Ini juga termasuk bagian dari promosi kebudayaan maupun identitas Kota Bandung sebagai kota kreatif,” tambahnya.
Penjualan bukan hanya di luar negeri, di kampung halamanya, Bandung, dia gencar mempromosikan, walau tidak seramai pasar luar. Dia menilai mungkin karena kelum adanya kesiapan masyarakat Indonesia untuk membeli sebuah kela ikat pinggang dengan nominal besar.
“Tapi tiu hanya sebagaian, beberapa musisi dalam negeri juga sudah bekerja sama dengan Fourspeed Metalwerks, seperti Melanie Subono, band Naif dan Ipang. Beberapa warga lain pun ada,” jelasnya.
Untuk omset yang didapat perbulan, dia enggan membua, namun dua bulan dapat membeli satu motor Harley-Davidson atau motor besar.
Laki-laki lulusan SMA yang tidak lulus dalam tes penerimaan mahasiswa di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) ini mulai merintis sejak tahun 2005 ini, tidak langsung sukses, manis pahit perjalanan pernah dirasakan, bahkan hingga pernah hampir terbakar dan kena ledakan campuran bahan kimia. Penjualan pun tidak lantas diterima ke luarnegeri, berawal dengan menjajakan katalog ke beberapa distro di Bandung.
Meski demikian, dia tidak pernah menyesali jalan hidupnya karena sekarang justru Hedi yang diundang sebagai pembicara oleh mahasiswa FSRD ITB. Bahkan, dia menjadi ”pembimbing” tugas akhir mahasiswa. (**)

Kisah Sukses Eksportir Yang Nggak Lulus Kuliah – Manampin “Pipin” Girsang

 Manampin-Girsang-Pengusaha-Ekportir-Mebel
Anggapan akan pendidikan tinggi yang bisa menjamin langsung sukses setelah lulus kuliah tidaklah 100% benar. Hal ini salah satunya dibuktikan dengan suksesnya seorang eksportir mebel kelas atas yang bernama Manampin Girsang. Kreatif, ulet dan pantang menyerah adalah kunci sukses beliau. Baca profil selengkapnya kisah sukses pengusaha ekportir sukses mebel yang nggak lulus kuliah di bawah ini yang saya culik dari kompas.com.
Mantan Pramuwisata yang Sukses Jadi Eksportir Mebel
Jika tidak bermodal nekat, Manampin Girsang tidak akan pergi ke Bali dan sukses menjadi eksportir mebel. Bermodal Rp 1,5 juta dan bahasa Inggris, ia dipercaya mengelola bisnis mebel antik dan akhirnya sukses membuka bisnis sendiri.
Sukses sering berawal dari sebuah pertemanan atau kemitraan. Itu juga yang dialami Manampin Girsang. Berawal dari bekerja sama dengan seorang pedagang barang antik, kini pria kelahiran Brastagi, Sumatra Utara, ini berhasil menjadi eksportir mebel antik ke Eropa, Amerika Serikat, hingga Timur Tengah.
Dengan menggunakan merek Gabe International, produk mebel Manampin sudah dikenal sebagian pengusaha hotel atau vila di luar negeri. Sejak 20 tahun silam, ia memasok mebel antik ke beberapa hotel dan vila mewah di Cayman Island, Kepulauan Fiji, Bahama, dan Mauritius. Tiap bulan, ia mengekspor setidaknya enam hingga delapan kontainer. Nilai tiap kontainer ukuran 40 kaki antara US$ 20.000–US$ 25.000.
Saat ini, selain memiliki gerai mebel di Bali, Pipin, panggilan akrab Manampin, juga mempunyai galeri, workshop, dan pabrik di Jepara, Jawa Tengah. Maklum, beragam produk yang diekspornya, dari meja, bufet, kursi, hingga dipan, semuanya diukir, dipahat, dan dikerjakan para perajin di Jepara.
Semua produk itu rata-rata diekspor tanpa merek, terutama jika pemesannya adalah perusahaan. Berdasar informasi dalam situsnya, klien Pipin antara lain Soneva Hotel, Club Med, serta Great Bay Hotels and Casino. Selain korporat, pelanggan mebel Gabe adalah para pemilik rumah atau vila.
Pipin, kini berusia 42 tahun, tidak menyangka bakal menjadi eksportir mebel seperti sekarang. Sejak kecil, ayahnya yang bekerja di PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengarahkannya untuk belajar teknik. Setelah masuk Sekolah Teknik Mesin (STM) di Brastagi, ia lantas kuliah di Jurusan Teknik Mesin Universitas Indonesia.
Tapi, sebenarnya, anak keempat dari tujuh bersaudara ini lebih menyukai bahasa ketimbang teknik. Saat masih sekolah di STM, ia senang memandu turis yang datang ke Brastagi. Nah, lantaran orientasinya berbeda, Pipin tidak lulus di UI. Alhasil, ia memilih merantau ke Bali pada tahun 1989. “Saya kabur karena drop out,” katanya.
Saat itu, dengan bekal duit Rp 1,5 juta dan kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris, Pipin ingin mencari kerja di Bali. Sementara masih lontang-lantung, ia lebih banyak bergaul dengan para turis dan acap memandu mereka. Lewat seorang teman dari Kanada yang dikenal saat masih di UI, ia bertemu Giovanni, pria asal Italia yang berbisnis di Bali.
Nah, oleh Giovanni, Pipin ditawari menjual bikini aspal. Artinya, merek terkenal tapi palsu. Celakanya, usaha ini tidak berjalan lama. Dia ditangkap oleh petugas keamanan lantaran tidak menjadi anggota paguyuban penjual. “Karena saya bukan anggota mereka, saya dianggap ilegal,” katanya.
Akibatnya, Pipin masuk dalam daftar hitam untuk berjualan dan beroperasi di kawasan Kuta. Giovanni menawari Pipin bisnis lain, yakni berjualan barang antik. “Orang Italia memiliki selera yang bagus untuk seni,” ujarnya. Ia melihat kebutuhan mebel di Bali sangat besar. Giovanni langsung percaya, dan memberi modal kamera dan uang agar pria yang pernah ingin menjadi tentara angkatan laut ini bisa berburu mebel antik.
Berjualan mebel antik
Nah, naluri bisnis Pipin tidak meleset. Ia berburu mebel antik ke Madura dan Jepara. Produknya dijual di Indonesia maupun diekspor ke luar negeri. Sebelum dijual, kadang ia harus memoles, mengecat, dan memperbaiki sendiri mebel antik itu. Pipin mendapat bagian 10% dari hasil penjualan mebel itu.
Karena hasil kerjanya bagus, akhirnya, Pipin mendapat modal Rp 30 juta dari Giovanni untuk membangun workshop di Jepara. “Jepara memiliki banyak talenta dan mebelnya bagus,” katanya. Ia juga mendapat hak untuk mencari pembeli sendiri, di luar pelanggan Giovanni. Tahun 1991, ia resmi mendirikan Gabe International. “Gabe berasal dari nama malaikat, Gabriel,” katanya.
Untuk memperluas pemasarannya, Pipin membuat website. Ia rela merogoh kocek Rp 2,5 juta untuk menyewa jasa pembuat situs. Nah, dari situsnya itu, para pembeli (buyers) berdatangan, kebanyakan dari luar negeri. “Berbisnis lewat internet juga bisnis kepercayaan. Karena itu, saya menjaga kualitas mebel yang saya kirim,” kata Pipin yang sering terjun sendiri menjual produknya.
Mulai tahun 2003, Pipin mengembangkan bisnis sendiri, lepas dari Giovanni yang sedang terbelit masalah keuangan. Saat itu, ia tidak ada persoalan dengan modal lantaran punya simpanan dalam dolar AS yang setara dengan Rp 1,7 miliar. Berbekal itu, Pipin menggenjot penjualan lewat website.
Lantaran selalu menjaga kepercayaan pemesan, pelanggan mebel antik buatan Pipin semakin banyak. Hampir semuanya memesan lewat internet.
Saat ini permintaan ekspor mebel tetap bagus. Ia bahkan menargetkan, dalam beberapa tahun ke depan, nilai ekspornya mencapai Rp 1 triliun per tahun. “Saya juga ingin punya merek sendiri,” katanya. Maklum, ia ingin mengharumkan nama produk asal Indonesia.

Pengusaha Ini Sukses 'Menyulap' Benang Jahit Jadi Lampion Cantik

Banyumas -Perajin lampion asal Banyumas, Jawa Tengah, Marta Afrianto tak pernah berpikir menjadi seorang pengusaha. Berawal dari iseng-iseng karena istri sakit, kini ia menjadi produsen lampion dan memiliki 5 karyawan.

Sosok pria berusia 25 tahun ini, kini kerepotan memenuhi pesanan lampion dan lampu tidur beraneka macam bentuk karakter kartun yang terbuat dari benang jahit. Pesanan pun mengalir dari berbagai kota di Indonesia.

"Awalnya iseng-iseng, karena istri sakit, kalau malam mau ngapain terus saya iseng-iseng buat. Kebetulan lihat kakak juga buat kerajinan ini cuma dia buat hanya 1 macem. Kita coba berinovasi dengan membuat bentuk karakter kartun yang digemari anak-anak yang sedang tren seperti angry birds, hello kitty, mickey mouse, donald bebek serta lampu gantung," kata Marta kepada wartawan di rumahnya, di Desa Pasir Lor, Kecamatan Karanglewas, Banyumas, Senin (9/7/2012).

Selain membuat kerajinan lampion dan lampu tidur yang disesuaikan dengan karakter tokoh yang sedang naik daun. Bisnisnya yang sudah berjalan selama 1 tahun ini terus berkembang setelah pemasarannya merambah ke dunia online.

"Dulu saya buat polos. Tapi karena kendala pemasaran saya coba download-download gambar, coba cari terus hingga mulai ada inovasi-inovasi untuk dari karakter tersebut untuk pemasaran. Ternyata pangsa pasarnya bagus sampai saya keteteran. Saat ini saya masih berani ke pesanan-pesananan saja lewat online. Kita belum berani nyetok," jelasnya.

Menurut Marta, cara membuat kerajinan ini lumayan rumit. Hingga saat ini, karyawannya belum mampu membuat aneka macam lampu dengan berbagai bentuk.

"Baru saya yang bisa membentuknya, pekerja lain paling hanya bisa menggunting, menggulung benang, pasang mata, telinga. Kita masih kesulitan mengajari dan mencari orang untuk membentuk karena harus telaten," tuturnya .
 


http://images.detik.com/content/2012/07/09/480/164934_lamputidurdaribenang1.jpg 

Hary Tanoesoedibjo Multimedia Indonesia

TOKOH WIRAUSAHA SUKSES DARI INDONESIA


  dilahirkan di Kota Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 26 September 1965. Ia merupakan pengusaha sukses asal Indonesia, julukannya sebagai Raja Multimedia Indonesia dan termasuk dalam urutan orang terkaya asal Indonesia menurut majalah Forbes. Setelah menamatkan Sekolah Menengah Atas, ia kemudian memilih masuk ke perguruan tinggi di negara Kanada yaitu Carleton University, Ottawa Kanada. Kemudian setelah menamatkan pendidikan dan mendapatkan gelar Bachelor of Commerce pada tahun 1988, Hary Tanoesoedibjo pun melanjutkan pendidikannya di Universitas yang sama yaitu Carleton University dengan mengambil jurusan magister untuk program Master of Business Administration pada tahun 1989. Hary Tanoesedibjo memang terkenal amat pandai Gelar master of Business Administration hanya ia capai dalam waktu satu tahun saja. 

Hary Tanoesoedibjo merupakan adik kandung dari Hartono Tanoesoedibjo dan Bambang Rudijanto Tanoesoedibjo. Beliau mempunyai istri bernama Liliana Tanaja Tanoesoedibjo dan memiliki 5 orang anak. Ketika tahun 2000 yang lalu Hary Tanoesoedibjo kemudian mengambil alih kepemilikan dari PT Bimantara Citra Tbk yang sebelumnya dimiliki oleh anak mantan Presiden Soeharto yaitu Bambang Trihatmodjo, Hary Tanoesoedibjo kemudian mengusung ambisi ingin menjadi jawara bisnis media penyiaran dan telekomunikasi. Dan, mimpi itu terbukti. Kini Hary Tanoesoedibjo mempunyai banyak stasiun TV swasta seperti RCTI, MNC TV, dan Global TV, perusahaan TV berlangganan Indovision, juga stasiun radio Trijaya FM dan media cetak Harian Seputar Indonesia dan Majalah Ekonomi.

Di bawah naungan PT Media Nusantara Citra (MNC), tak sampai lima tahun, Hary kemudian berhasil menguasai saham mayoritas di stasiun TV tersebut. Saham MNC sendiri 99,9% dimiliki oleh Bimantara Citra. Sejak memiliki Bimantara, Hary kian agresif di bidang media. Ditambah lagi, Hary mempunyai kemampuan menentukan perusahaan-perusahaan media mana yang berpotensi untuk berkembang. Selain itu, banyak orang mengakui, kunci sukses Hary terletak pada kemampuannya menata kembali perusahaan yang sudah kusut alias bermasalah. Ini terbukti ketika pria yang kabarnya pernah tidak naik kelas di masa SMA ini membenahi Bimantara yang terbelit utang.
Sebelumnya, Bimantara juga memiliki stasiun radio Trijaya FM. 

Belakangan, untuk menambah eksistensinya dalam dunia media, Bimantara juga menerbitkan media cetak. Sampai saat ini ada majalah, tabloid, dan koran yang bergabung di bawah bendera Grup Bimantara. Ada majalah ekonomi dan bisnis Trust, tabloid remaja Genie, dan pertengahan 2005 lalu menerbitkan harian Seputar Indonesia. Ke depan, MNC diproyeksikan menjadi perusahaan subholding yang bertindak sebagai induk media penyiaran di bawah Grup Bimantara. MNC juga bakal menjadi rumah produksi yang akan memasok acara-acara ke RCTI, TPI, Global TV, dan semua jaringan radionya. Selain itu, MNC akan membangun jaringan radio nasional di seluruh wilayah Tanah Air. Hary telah membuktikan kemampuannya membangun dinasti bisnis, dengan nilai aset US$ 7,2 miliar. Kinerja bisnis cemerlang itu ia lakukan hanya dalam tempo 14 tahun.

Saat ini Hary memegang beberapa jabatan strategis di berbagai perusahaan terkemuka di Indonesia. Ia ditunjuk sebagai Presiden Direktur PT Global Mediacom Tbk (sejak tahun 2002) setelah sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden Komisaris perusahaan tersebut. Ia adalah pendiri, pemegang saham, dan Presiden Eksekutif Grup PT Bhakti Investama Tbk sejak tahun 1989.

Selain itu, Hary saat ini juga memegang berbagai posisi di perusahaan-perusahaan lainnya

Dari Asongan Jadi Pengusaha Sukses

Menjadi orang sukses adalah pilihan hidup setiap orang yang mau berusaha.
Pemikiran itu yang membawa Wildan, pria berumur 38 tahun, sukses menjalankan beberapa bisnis sekaligus.la membuka bengkel jok mobil Mr. Seat, bengkel knalpot, menjual pisang goreng pasir Pisangku, dan menciptakan kompor hemat bahan bakar.
Kerja keras dan terus menciptakan inovasi dalam berbisnis membuat seorang anak daerah dari Lampung bernama Wildan sukses menaklukkan ibukota. Saat ini,  ia telah memiliki bengkel jok mobil yang sudah dikenal luas kualitas dan inovasinya. Namanya Mr. Seat di daerah Jl. Pangeran Antasari, Cipete, Jakarta Selatan.
Dalam sebulan, Wildan mengaku bisa mengantongi omzet dari pesanan jok mobil antara Rp 200 juta hingga Rp 300 juta. Ia sering mengikuti pameran-pameran mobil dengan memamerkan kreasi jok mobil nyeleneh. “Saya pernah membungkus satu badan luar mobil Avanza baru dengan jok kulit buatan sendiri,” kenangnya.
Di samping itu, Wildan memiliki bengkel knalpot dan AC yang bersebelahan dengan lokasi bengkel Mr. Seat. Tidak hanya itu, sejak dua tahun silam, ia menjajal peruntungan dengan menjual pisang goreng pasir yang kala itu menjadi tren. Ia menamakan pisang pasirnya dengan merek Pisangku. Dari enam gerai miliknya, Wildan mengaku bisa menjual hingga 4.000 potong pisang goreng per gerai setiap akhir pekan. Pada hari biasa, rata-rata penjualannya 2.000 pisang.
Untuk bisa menghemat ongkos produksi pisang pasirnya, Wildan mencoba menciptakan kompor hemat bahan bakar yang membuat proses penggorengan lebih cepat. Kompor bikinannya ini memiliki banyak semburan mata gas sehingga membuat wajan cepat papas. “Dengan menggunakan kompor ini, kami bisa mengefisiensikan bahan bakar dan menambah kapasitas penggorengan,” ujarnya.
Pencapaiannya itu tidak begitu saja dia dapatkan dalam sekejap mata. Ia bahkan tidak menyangka bisa sesukses sekarang. “Semua ini anugerah dan kehendak Tuhan sehingga saya bisa sesukses seperti saat ini,” ujarnya merendah.
Padahal, pada tahun 90-an, Wildan belum menjadi apa-apa. Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan kuliahnya di Lampung lantaran harus segera menghasilkan uang agar bisa melanjutkan hidup secara mandiri. la sempat menjual kartu-kartu ucapan di daerah Blok M sementara belum memiliki pekerjaan tetap. “Saya sering tidur di gudang-gudang daerah Aldiron karena tidak memiliki tempat tinggal tetap,” kenangnya.
Kala itu, untuk mencari pekerjaan lebih layak, selain menjadi penjual kartu ucapan, Wildan juga nyambi menjadi tenaga penjual (salesman) alatalat rumah tangga. “Saya menjalani pekerjaan tersebut sebaik-baiknya walaupun sebagai tukang jualan alat rumah tangga dari rumah ke rumah sering mendapat penolakan,” kenangnya.
Melakoni profesi sebagai tenaga penjual alias salesman alat-alat rumah tangga, Wildan sempat menjadi supervisor. la mulai menabung hasil jerih payahnya. Malang tak bisa ditolak, perusahaan tempat ia bekerja bangkrut. Wildan harus mencari tempat kerja lain agar bisa bertahan hidup.
Tuhan memberi jalan. Dari koneksi sang kakak, Wildan mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan jasa pembebasan tanah. “Saya waktu itu sempat membebaskan tanah di Bali dan Lombok,” ujarnya.
Perlahan tapi pasti, tabungan Wildan mulai terkumpul. Tabungan ini kemudian ia jadikan modal membuka bengkel knalpot dan mesin penyejuk udara alias air conditioner (AC). “Waktu itu, abang Saya juga sudah lebih dulu membuka bengkel yang sama, tidak jauh dari bengkel saya. Lalu, kami patungan mendirikan bengkel, saya ditugasi untuk mengelolanya,” ujar Wildan.
Awalnya bisnis ini tak gampang. Wildan sempat putus asa, sebab ternyata peminat bengkelnya sangat sedikit. Sepi dan terus merugi. Saking frustrasi, sempat terbersit menjual tanah tempat bengkelnya berdiri. Untung langkah ini urung lantaran penawaran harganya sangat rendah. “Mungkin sudah takdir saya tidak boleh menjual bengkel itu,” ujar Wildan.
Tawaran lain datang. Tak seberapa lama, ada seseorang yang ingin bekerjasama membuka usaha jok mobil. Wildan diminta menyediakan tempat dan mencari pesanan, sang rekan mengerjakan pesanan jok mobil. Tapi, lagi-lagi, rencana ini tidak berjalan lancar. Sebab, mitranya selalu mangkir dari tenggat penyelesaian pesanan.
Wildan lantas memutuskan kerjasama. Tapi, satu dari tiga pegawainya menyarankan terus menjalankan bisnis jok ini. Awalnya, ia sempat ragu, sebab ia tidak mengerti sama sekali bisnis jok mobil dan otomotif. Untunglah, sang pegawai yang sudah piawai mau membantu. Wildan mencoba menginvestasikan uangnya dengan membeli bahan-bahan jok. la memberi nama usahanya dengan sebutan Mr. Seat pada tahun 2002. Tapi, usahanya tetap saja sepi.
Wildan belum menyerah. la lalu berusaha mengamati dan mempelajari bagaimana menjalankan usaha jok mobil di tempat lain yang lebih ramai peminat. Selain itu, ia rajin mempelajari teknik pemasangan jok dari media massa. Berbekal ilmu yang didapat, Wildan lalu menerapkannya. la memasang strategi lain: beriklan dengan janji kualitas bagus dan harga miring.
Ternyata, dengan memberi diskon dan gebrakan saat membuka bengkel jok, Mr Seat mulai dikenal orang dan lama kelamaan banyak orang yang datang mengganti jok. “Saya sempat banting harga jok mobil sedan menjadi Rp 1 juta. Padahal, di bengkel lain, saat itu harganya Rp 1,6 juta,” kenang Wildan.
Tidak hanya itu, Wildan juga membuat terobosan dalam berpromosi, yaitu dengan membungkus body mobil dengan kain jok. Setelah itu, ia menambah bola besar dari kulit jok di badan mobil. Tuiuannya, mencuri perhatian masyarakat terhadap merek Mr. Seat. Hasilnya, masyarakat benarbenar tertarik dan memutuskan mengganti jok di Mr Seat.
Namun, kesuksesan bisnis bengkel jok Mr. Seat tidak lantas membuat Wildan berpuas diri. Pada tahun 2005, bisnis pisang goreng Pontianak tiba-tiba populer di Jakarta. Jiwa bisnis Wildan mendorongnya menjajal peruntungan di bisnis ini juga.
Pada awal 2006, Wildan mulai membuat pisang goreng premium dengan merek PisangKu di Bintaro, Tangerang. Kebetulan, ia pernah berjualan pisang goreng sejenis itu di Lampung, meskipun mandek dan gagal. Nah, agar tidak gagal lagi, sebelum membuat PisangKu, Wildan sempat mengantre membeli Pisang Goreng Pontianak yang sudah lebih dulu populer. “Tapi, saya khawatir usaha ini akan cepat mati. Sebab, mereka sangat terbuka soal resepnya sehingga sangat mudah ditiru orang,” ujar Wildan.
Faktanya, banyak sekali pisang pasir goreng sejenis bermunculan. Makanya, Wildan akhirnya membuat resep rahasia dengan pemilihan pisang dari Lampung, bukan dari Pontianak. “Sampai sekarang, karyawan saya tidak pernah tahu resep pembuatan pisang goreng pasir Saya tersebut,” kata Wildan.
Wildan mengaku, kegigihannya dalam menjalankan bisnisnya lahir dari perjalanan hidup sejak kecil. Waktu itu, Wildan harus membantu perekonomian keluarga dengan berdagang teh kotak dan tisu dari bus ke bus saat masih bersekolah di Lampung. Bahkan, ia sempat berjualan bakwan dan es. “Dari sana, saya tahu bahwa manusia harus berusaha jika ingin berhasil,” ujamya.
Saat ini, Wildan bisa membawahi ratusan pekerja di bengkel maupun gerai PisangKu. Kedepan, ia bercita-cita menciptakan makanan murah meriah tapi memiliki keunikan yang bisa menjadi tren di Jakarta. “Masih saya pikirkan jenis makanan apa. Yang jelas, saya akan menjaga bisnis saya terus berjalan,” ujarnya.

Pengusaha Muda Pisang Ijo Raup Omzet Ratusan Juta

 Kini selera makan masyarakat Indonesia makin beragam. Tidak melulu makanan londo cepat saji yang sekarang kian merebak, penikmat kuliner juga mulai melirik makanan tradisional Nusantara. Salah satunya adalah pisang ijo asal Makassar, Sulawesi Selatan.
Menu makanan dengan bahan dasar pisang berbalut tepung berwarna hijau ini sukses dipasarkan Riezka Rahmatiana. Perempuan muda berusia 24 tahun ini sanggup meraup omzet mencapai Rp 850 juta dari hasil jualan pisang ijo dengan merek dagang JustMine.
Padahal, saat memulai usaha pada 2007, dia hanya merogoh koceknya Rp 2 juta. Modal tersebut kemudian habis dibelanjakannya untuk membuat etalase kecil serta bahan-bahan pembuat pisang ijo.
“Waktu buka usaha ini modalnya kecil. Hanya Rp 2 juta,” ujarnya saat ditemui di sela-sela Expo Wirausaha Mandiri di Jakarta Convention Center, Jakarta, Sabtu (23/1/2010).
Riezka berkisah, kesuksesan diraihnya dengan penuh kerja keras. Awalnya, dia pernah menjadi anggota  multilevel marketing (MLM). Karena tidak membuahkan hasil, Riezka beralih menjajal bisnis voucer pulsa yang akhirnya kandas juga.
Tak patah arang, Riezka akhirnya banting setir dan mulai menggeluti usaha di bidang kuliner. Saat itu, dia merintis sebuah kafe di Bandung. Namun, lagi-lagi usahanya gagal.
Akhirnya, pada tahun 2007 Riezka mulai melirik pisang dan berpikir untuk mengemasnya menjadi panganan yang digemari orang. “Saat itu saya hanya berpikir, pisang itu kalau laku dijual enaknya dibikin apa. Akhirnya saya memutuskan untuk memasarkan pisang ijo,” katanya.
Yang unik, Riezka yang asal Mataram, Nusa Tenggara Barat, ini mengaku belum pernah sekali pun menyambangi Makassar. Kunci keberhasilan mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikai Universitas Padjadjaran ini sebenarnya terletak pada kreativitasnya mengembangkan makanan pisang ijo dalam berbagai aneka rasa. Dari pisang ijo tradisional dikembangkan dengan campuran vla yang ditambahkan dengan berbagai rasa, vanila, cokelat, keju, hingga durian.
Bandingkan dengan pisang ijo makassar yang hanya berbungkus terigu berwarna hijau pandan plus lamuran vla ditambah sirup sebagai pemanis. Ada juga yang dilumuri bubur sumsum dan es batu.
Harga pisang ijo JustMine dipasarkan Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per porsi. Semangkuk pisang ijo ini menjadi makanan yang digemari banyak orang. Buktinya, saat Expo Wirausaha Mandiri hari ini, ratusan pengunjung tidak henti-hentinya menyerbu stan pisang ijo ini. Bahkan, dalam hitungan jam, stok pisang ijo milik Riezka ludes.
“Ini makanya telepon lagi minta dikirim ke sini. Pengunjungnya sudah antre dari pagi,” ujarnya.
Untuk mengembangkan usahanya itu, Riezka membuka peluang untuk berinvestasi bagi siapa saja yang berminat dengan sistem waralaba pisang ijo. Hingga kini, ada 20 gerai pewaralaba pisang ijo yang tersebar di Bandung, Jakarta, dan Bekasi. Di samping itu, Riezka juga punya tiga outlet di Bandung.
Untuk menjamin keuntungan bersama dengan para mitra, proses seleksi mitra waralaba pisang ijo cukup cermat. Riezka menjelaskan, untuk menjadi mitra pisang ijo JustMine, cukup dengan investasi mulai dari Rp 6,5 juta.
Nantinya, para mitra akan mendapatkan satu booth, paket perlengkapan booth lengkap, paket promosi, jaminan kualitas produk, biaya deliverytrainning karyawan, dan hak pakai booth.